Catatan harian suami yang ingin berhenti merokok

Meniadakan hal yang biasanya menjadi rutinitas memang berat, apalagi jika itu sudah berlangsung selama hampir berpuluh tahun. Semua itu tetap butuh penyesuaian, penyesuaian rasa, penyesuaian waktu, penyesuaian sikap, penyesuaian sistem kerja tubuh. Di sini saya ingin menuliskan proses suami saya ketika mencoba berhenti merokok, kenapa saya bilang mencoba berhenti? ini karena saya tidak ingin muluk-muluk dulu dan karena sampai saat saya menuliskan ini, suami saya masih dalam tahap mencoba, belum sepenuhnya berhenti, harapannya sih dia mau berhenti total suatu saat nanti. Yang ingin saya bagikan disini tidak hanya dari sudut pandang saya saja tetapi juga dari sudut pandang suami saya. Saya menulis ini juga agar saya lebih banyak memberi semangat kepada suami saya.

Kapan? Kapan tepatnya dia termotivasi ingin mencoba berhenti? Saya masih ingat waktu itu menjelang akhir bulan november. Tanggal 24 November 2018 ketika suami saya pulang kerja dia mengeluh sakit kepala (kepalanya berat dan pandangan beputar-putar). Memang satu minggu terakhir itu anak-anak juga terserang batuk pilek, saya sendiri sudah batuk pilek tetapi tidak parah, dan hal ini tidak luput dari suami saya, tak terkecuali dia, dia juga ikut terserang batuk pilek bahkan bisa dikatakan serumah itu dia yang paling parah sakitnya, hal ini juga disebabkan karena di bulan november ini dia memforsir tenaga dan pikirannya untuk bekerja ekstra keras menghadapi gathering kantornya (dia termotivasi untuk tutup target, setelah perjuangan yang berdarah-darah akhirnya tutup target dong ya, yeyeye lalalala..) dan dia juga membantu mengelola peremajaan saluran air di tiap rumah dalam 1 RT di komplek tempat tinggal kami. Tanggal 25 November malam dia semakin merasa tidak enak badan, badanya lemah, dia mengigil kedinginan, dia terus-terusan batuk, dan dadanya sakit ketika dia batuk. Tanggal 26 November saya memaksanya untuk beristirahat di rumah dan memintanya ijin tidak bekerja, saya bilang memaksa karena aahhhh… dia itu susah sekali dibujuk untuk istirahat, jatah cuti yang menjadi hak dia saja dia tidak ambil, apalagi sampai mangkir tidak bekerja yang menyebabkan  terpaksa dia mendadak harus membatalkan semua rencana pekerjaannya. Di momen dia sakit inilah, saya mengeluarkan jurus-jurus saya agar dia mau berkaca dan berpikir kembali supaya dia mempertimbangkan untuk berhenti merokok.

Apa motivasinya? kalimat atau tindakan apa sih yang bikin kamu makjleb dan berpikir “ini udah saatnya saya harus mencoba” ? Kalau dari penuturan suami sih dia bilang tidak ada motivasi atau tidak ada hal-hal yang bikin dia makjleb, dia berhenti hanya karena sering diomelin saya setiap merokok. Sederhana banget ya alasannya dan jawaban dia makjleb buat saya,hahaha. Tapi saya bersyukur karena omelan saya setiap hari yang berlangsung selama bertahun-tahun akhirnya ada hasilnya juga, karena saya juga sebenarnya capek setiap hari harus ceriwis menasehati suami saya supaya tidak dekat dekat anak/rumah kalau merokok, habis merokok harus cuci tangan cuci muka dan ganti baju dll.

Apa harapannya setelah berhenti merokok? Untuk harapannya dia menyampaikan karena ingin hidup lebih sehat. Kalau saya pribadi sih ingin dia berhenti merokok karena selain menginginkan dia hidup lebih sehat saya juga ingin bisa menua bersamanya, meski sudah tua nanti saya masih ingin nunak nunuk bersamanya, kemana-mana bersama, bisa jalan-jalan ke banyak tempat, melakukan banyak hal bersama, bisa bermain dan mengasuh cucu di masa tua saya. Jadi saya ingin dia sehat tidak untuk hari ini saja tapi untuk masa depan.

Langkah-langkah yang dilakukan untuk berhenti merokok? Tanggapan orang sekitar ?Selama kurang lebih 1 minggu pertama suami saya langsung stop merokok, yang dirasakan susah sekali dan dia sering merasa gelisah, frekuensinya ngemil dan makan besar juga lebih sering dari biasanya, karena ketika dia tidak merokok dia jadi sering merasa lapar, di tengah malam pun dia sering terbangun dari tidur karena perut merasa lapar. Di minggu berikutnya polanya dirubah, dia merokok tetapi hanya 1 kali atau 2 kali dalam satu hari atau kadang tidak sama sekali, jadi tidak seperti minggu pertama yang langsung stop benar-benar tidak merokok. Dia ingin perlahan mengurangi bukan langsung stop, karena menurutnya tubuhnya butuh penyesuaian diri begitu juga lingkungannya. Dia merokok 1 hari 1 atau 2 batang pun karena untuk menjaga hubungan pertemanan karena di tempat kerja dan di lingkungan rumah hampir semuanya merokok dan baginya berhenti merokok itu mengurangi hubungan pertemanannya, ketika dia tidak merokok teman-teman jadi merasa segan untuk mengajaknya berkumpul dan mengobrol. Ya memang ada betulnya kalau teman-teman menjadi segan, ada tetangga dekat yang sering kongkow sambil ngopi dan merokok di teras rumah hingga tengah malam, sekarang jadi jarang main ke rumah karena alasannya kasian anak-anak saya yang masih kecil kena asap rokok. Kemudian rekan kerjanya yang biasanya order barang-barang sambil mengajaknya ngobrol, sekarang jadi tidak banyak ngobrol dengannya. Kalau saya sendiri menanggapinya positif, memang tetangga dan temannya di awal-awal pasti merasakan segan tetapi nanti perlahan mereka akan menghormati prinsip suami saya. Dan saya juga bersyukur yang biasanya dia merokok sehari semalam bisa 12 batang, sekarang sehari semalam 1-2 kadang malahan berhari-hari tidak merokok sama sekali.

Yang dirasakan setelah mencoba berhenti merokok? Karena ini masih berlangsung 1 bulan jadi perubahannya belum terlalu banyak, kata suami sih dia jadi jarang batuk-batuk. Oya di awal tadi saya bercerita pada di dua minggu pertamanya dia berusaha berhenti merokok suami saya jadi lebih sering ngemil dan sering makan besar, tetapi semakin kesini intensitas ngemil dan makan besarnya kembali normal dan setelah 1 bulan ini berat badan suami saya sedikit berkurang, saya tidak tahu korelasinya kalau dilihat secara medis, tapi saya malahan bersyukur karena suami saya tergolong over weight. Sekecil apapun efek yang terlihat, saya sudah bersyukur sekali karena dia punya kemauan untuk ke arah lebih baik saja itu sudah langkah besar menurut saya. Kita tidak pernah tahu kita akan hidup sampai diumur berapa, jadi sebisa mungkin kita harus menjaga kesehatan kita. Sederhana sih, saya hanya tidak ingin suatu hari nanti kondisi kesehatan saya menjadi beban untuk orang lain.

Semoga suami saya tetap semangat berusaha dan saya juga tetap semangat dalam memotivasinya. Kan memang seharusnya seperti itulah suami dan istri, saling memberikan motivasi untuk melakukan banyak hal positif.

Bismillah dan Alhamdulillah

Ratih Puspa Dewi


Iklan

Kebahagiaan itu bernama sahabat..

Membekas dalam ingatan.., bagaimana dulu kita bertemu.Berawal dari sebuah pertemanan saat magang mengajar di SMU Negeri Semarang tahun 2008. Kamu dan aku saat itu tidak pernah menyangka kalau pada akhirnya kita akan saling suka. Karena kita menyukai orang lain saat itu, tapi mungkin takdir ya  (klise) dan semoga kita berjodoh sampai maut memisahkan.

Saat kita memutuskan untuk lebih dekat dari sekedar teman, kamu dari awal sudah mempersuntingku menjadi istri. Kok bisa? iya bisa.

“Aku mencari istri,bukan pacar,jadi kamu mau tidak menjadi calon istriku?” Begitu kurang lebih inti dari permintaanmu.

Kurang lebih 5 tahun setelah itu kita menikah. Dan sekarang usia pernikahan kita juga sudah menginjak 5 tahun. Banyak yang harus dikorbankan, ego kita dan kebahagiaan masing2, ini yang dinamakan USAHA, supaya apa?supaya kita bahagia dengan pernikahan kita, karena tidak semata2 hanya dengan menikah lalu kita bisa auto bahagia (tanpa adanya USAHA).

Seperti pada tulisan crowdstroia yang pernah saya baca akhir-akhir ini di novel online nya di wattpad dalam seri desiden yang judulnya Rekonstruksi, tulisan dia itu seperti.. ya memang seharusnya itu lah apa yang harus kita lakukan di kehidupan kita, hmmm tepatnya (menurut pendapat pribadi saya) tulisan dia pas banget kalo di aplikasikan di kehidupan krn memang harusnya seperti itulah hidup…(itu maksud saya, agak muter-muter ya ngomongnya).

Begini nih menurut crowdstroia (troi):

“banyak orang berpikir dengan menikah makan dia akan bahagia, itu salah besar”

“nikah nggak akan bikin lo jadi bahagia. Yang akan membuat lo jadi bahagia dalam pernikahan adalah USAHA lo dan pasangan untuk berbagi kebahagiaan. Usaha-usaha itu meliputi : tindakan romantis, saling menghargai, saling mendukung, terus berusaha rajin menjalin komunikasi, nggak cuek, dsb, dsb”

Nah, ini lah yang saya rasakan, saya bilang banyak yang harus dikorbankan, ego kita dan kebahagiaan masing2, ya memang menurut saya harus seperti itu, masak iya kita mau egois dengan dengan kebahagiaan kita sendiri tanpa memedulikan apakah pasangan kita juga bisa bahagia dengan apa yg kita lakukan. Contohnya nih yang banyak kita lihat : si istri bisa bahagia dengan mendapatkan jabatan tinggi di kantornya, tapi apakah di balik kebahagiaannya itu si suami dan anak happy? apakah dengan itu suami dan anaknya  tetap mendapat perhatian dan waktu dari istri/ibu yang sibuk bekerja karena jabatannya naik?

Kemudian setelah mengalahkan ego masing-masing kita usahakan apa yang membuat suami istri bahagia. Kan ya kalau mau bahagia sama-sama, kalau yang bahagia hanya suami aja atau istri aja lalu buat apa terjadi dengan pernikahan.

Dan saya juga setuju kalo troi bilang nikah adalah PR seumur hidup. Pasutri yang bahagia mengerjakan PR nya dengan senang hati, sebab mereka sadar betul menikah itu bukan pencapaian hidup tapi PR seumur hidup yang akan terasa manis hasilnya kalau mereka kerjakan dengan senang hati dan saling bekerja sama. Menikah itu pekerjaan bukan pencapaian hidup.

Lagi-lagi saya setuju dengan yang dituliskan troi di novel online nya di wattpad dalam seri desiden yang judulnya Rekonstruksi. Yang sudah menikah atau yang belum menikah saya rekomendasikan untuk baca ini, saya yang sudah baca novel online saja masih menunggu kapan novel ini diterbitkan

Menikah memang harus saling bekerja sama, berat kalau tidak iklas, tapi hasilnya rasanya indah (agak lebay sih) tapi entah kenapa memang itu yang saya rasakan, bahkan ada rasa haru dan bangga pada suami saya.

Dia, suamiku..

Dia, tidak ada rasa malu dan berat. Bahkan dia menawarkan membantuku ketika aku tak punya waktu untuk belanja sayur untuk dimasak sehari-hari, bahkan ketika aku bisa melakukannya pun dia tetap meminta dirinya saja yang perg berbelanja selepas pulang kerja.

Dia, tidak ada rasa malu dan berat, ketika harus menjemput anak-anak setiap hari dirumah kakak sepupu saya sepulang dia kerja, karena jam pulang kerja kita berbeda. Dia tidak malu harus menggendong ransel di punggungnya, menggendong anak bungsu di bagian depan badannya kemudian memboncengkan anak sulung di motor, dan ya.. motornya penuh perbekalan yang dibawa anak-anak pada pagi harinya (seperti lepak makan kotor,botol susu kotor dan baju-baju kotor)

Dia,juga tidak ragu membantu mengerjakan pekerjaan domestik ketika dirumah, menggantikanku ketika aku sibuk mengerjakan pekerjaan rumah lainnya, atau ketika aku sedang kelelahan.

Mungkin sebagian besar orang ini hal biasa, tapi ini membuatku bangga pada nya, haru dan berterima kasih atas usahanya yang tulus, atas pengertiannya kepadaku, kepada rumah, kepada anak-anak, dan juga atas kerjasamanya denganku.

Semoga kita selalu bisa mengerjakan PR kita dengan cara yang manis dan iklas..

Dia, sahabat dan teman hidupku, dalam berbagi, berbagi banyak hal, berbagi suka, berbagi duka, berbagi tanggung jawab…

 

Warm Regards

Ratih