Toilet training? coba sekarang?atau nanti aja deh….

Di usia berapa ya anak-anak diharapkan siap menjalani toilet training dan bisa sepenuhnya lepas dari popok sekali pakai? Dari yang pernah saya baca di https://hellosehat.com/parenting/perkembangan-balita/waktu-anak-lepas-popok/ bahwa menurut sebuah studi baru dari American Academy of Pediatrics, orangtua di Amerika percaya bahwa anak bisa lepas popok ketika mereka berusia 18 hingga 24 bulan. Sementara itu, waktu terbaik untuk melatih anak pakai toilet sendiri adalah secepat mungkin. Para pakar pun tak menemukan adanya bahaya jika bayi atau balita mulai lepas popok dan menggunakan toilet sejak dini.

Sebaiknya ajari anak Anda untuk memakai toilet ketika anak sudah bisa mengatur keinginan untuk buang air. Anak yang sudah bisa mengatur keinginan buang air akan buang air besar di waktu yang sama setiap harinya, tidak buang air besar di malam hari, dan memiliki popok yang kering dan bersih setelah 2 jam pemakaian popok atau selama tidur siang. Pastikan juga anak sudah bisa memanjat, berbicara, dan melepas pakaian yang merupakan kemampuan motorik penting untuk bisa memakai toilet ( https://hellosehat.com/parenting/perkembangan-balita/waktu-anak-lepas-popok/ )

Anak yang sudah siap memakai toilet juga siap secara mental. artinya, ia patuh ketika diajarkan dan diminta untuk buang air di toilet. Salah satu tandanya adalah anak Anda mungkin merasa dirinya “sudah gede” sehingga malu untuk pakai popok ( https://hellosehat.com/parenting/perkembangan-balita/waktu-anak-lepas-popok/ )

Dua anak saya menjalani toilet training di usia yang berbeda. Si sulung Keiandhara saya ajarkan toilet training ketika adiknya baru saja dilahirkan tepat di hari ketiga (setelah saya melahirkan dan sepulang saya dari RS) di usia 3 tahun 8 bulan pada tanggal 16 April 2017. Sebenarnya kalau dipikirkan kembali pemilihan waktu itu sedikit merepotkan saya, dengan kondisi saya pasca melahirkan secara operasi dan saya diharuskan merawat bungsu saya yang masih bayi. Saya memilih waktu itu bukanlah tanpa alasan, saya sengaja memilih di waktu saya cuti melahirkan selama 3 bulan dengan alasan supaya saya punya cukup banyak waktu untuk melatihnya secara terus menerus sampai dia benar-benar siap tanpa diapers. Cukup cepat melatihnya,hanya dibutuhkan waktu kurang lebih 1 minggu. Sedangkan si bungsu Abrizam saya ajarkan toilet training di usia 2 tahun 1 bulan, lebih dini dari kakaknya. Pemilihan waktu ini juga saya rasa tepat karena bersamaan dengan libur panjang sebelum lebaran dan pasca lebaran yang totalnya sekitar 11 hari yang saya mulai pada tanggal 30 Mei 2019. Berebeda dengan kakaknya, Abrizam membutuhkan waktu yang lebih lama daripada kakaknya, apakah faktor usia yang lebih muda dan jenis kelamin yang mempengaruhi proses belajarnya ya? atau dikarenakan setiap anak memiliki kesiapan yang berbeda-beda? Untuk Abrizam, dia harus berkali-kali diberi pengertian, bahkan ketika saya tatur di kamar mandi dia tidak mau dan menangis dan beberapa detik setelah keluar dari kamar mandi pipis nya langsung keluar di celana, atau dia baru bilang “pipis” setelah celananya basah. Hari demi hari dia mengalami kemajuan meski tak jarang dia susah menahan keinginan untuk pipis, minta pipis tetapi belum sempat lepas celana sudah keburu keluar.

Lagi-lagi ini berbeda dengan kakaknya dulu, kakaknya juga minum susu sama banyaknya dan saat itu dia belum saya sapih dari botol susunya tetapi saat itu kakaknya tidak se-beser adiknya. Cara lain yang saya coba lakukan supaya abrizam bisa mengontrol keinginan pipisnya adalah saya coba menyapihnya minum susu dari botol, anggapan saya kalau dia minum tanpa botol susu pasti kuantitas minum susunya menurun sehingga abrizam tidak terlalu beser. Betul ternyata, ketika saya mencoba menyapihnya memang dia lebih teratur bilang mau pipis/eek, di tatur pun mau, tetapi dampak lainnya dia seharian jadi lebih rewel, sedikit-sedikit mewek minta gendong, tidur pun minta gendong dan tidak mau tidur di kamar (ini ujian selanjutnya bagi saya). Kemudian saya langsung angkat tangan di hari ke-3 menyapih botol susu , abrizam sudah tidak kooporatif dan dia rewel sekali sehari semalam selama 2 hari, dan tentunya badan saya dan suami juga ikutan tidak kooporatif (kepala pusing dan masuk angin), akhirnya saya menyerah dan botol susu saya berikan kembali padanya. Dan anehnya selepas saya berikan botolnya kembali, setiap dia mau pipis dan eek dia seringnya bilang dan langsung jalan ke kamar madi (hehehe,sapih botol susu jadi semacam ancaman ya). Kemudian keanehan yang lainnya adalah ketika abrizam dijaga oleh kakak saya di rumahnya, seringnya dia tidak mau bilang kalau ingin pipis bahkan ketika di tatur pipis juga tidak mau, padahal ketika di rumah dia lebih teratur dan kooporatif bilang ketika mau pipis dan eek, bahkan ketika di rumah dia saya pakaikan diapers pun dia tetap minta pipisnya di kamar mandi

Dari pengalaman ini saya jadi belajar banyak bahwa memang baiknya ketika mulai melatih toilet training kita harus mempertimbangkan beberapa hal:

1.Pemilihan waktu, cari waktu yang panjang yang memungkinkan melatihnya secara continue tanpa terputus sehari pun hingga toilet training benar-benar berhasil

2.Pemilihan tempat, ketika dilakukan di dua tempat yang berbeda dalam satu hari yang sama (misal pagi-sore dirumah budenya, sore-malam dirumah) adaptasi yang dilaluinya terlalu banyak, adaptasi tempat juga adaptasi harus pipis di kamar mandi. Karena menurut saya kondisi kamar mandi setiap rumah berbeda,contohnya kamar mandi di rumah kakak saya (budenya anak-anak) letaknya agak jauh dari ruang tamu dan ruang keluarga, sehingga dia mungkin malas kalau harus jauh2 jalan pipis ke kamar mandi padahal dia sudah kebelet sekali. Jadi biarkanlah dia benar-benar lulus toilet training dahulu di rumah, artinya kita harus menyediakan lebih banyak waktu (cuti) untuk mengajarinya.

3. Jangan dibarengi dengan menyapih botol, sekali lagi menurut saya dia akan terlalu banyak mengalami adaptasi di waktu yang sama dan mungkin akan mempengaruhi moodnya

4. Bersabarlah, karena ketika toilet training berlangsung kesabaran diuji. Pakaian dan seprei bau pipis banyak yang menumpuk, di setiap penjuru rumah jadi sering basah dan bau pipis yang akibatnya kita harus sering-sering mengepel rumah. Jangan malas menanyakan “pengen pipis ndak?” dan jangan malas untuk sering mengajaknya kekamar mandi. Selain bersabar kita juga harus teguh pendiriannya, jangan hanya karena capek dan tidak sabar lalu kita berhenti melatihnya di tengah jalan (karena saya beberapa kali berpikir begitu ketika melatih si bungsu,hehe).

With Love

Ratih

tatur : dipangku sedemikian rupa agar buang air

beser : /be·ser/ /bésér/ a sebentar-sebentar kencing;

Daftar pustaka:

  1. https://hellosehat.com/parenting/perkembangan-balita/waktu-anak-lepas-popok/ . Diakses 19 Juni 2019
  2. https://glosarium.org/arti-tatur/ . Diakses 19 Juni 2019
  3. https://kbbi.web.id/beser . Diakses 19 Juni 2019

Iklan

Anak balita diajak nonton bioskop, yay or nay?

Kamis kemarin akhirnya saya nonton bioskop setelah saya berhasil membujuk suami saya, hehehe (seneng nya udah kayak dapat apa aja). Ya bagi ibu-ibu seperti saya kalau suami memberikan waktu me time, itu hal yang menyenangkan. Dan ya, saya nonton sendirian lho, bukan dengan suami, sebenarnya sih kemarin sudah berencana nonton bareng sahabat tetapi karena sahabat pulang dari kantor jam 18.30 dan lokasi bioskop pilihan saya baginya terlalu jauh akhirnya ya habis itu pembicaraan mengenai rencana nonton bareng tidak ada lanjutannya. Menurut saya kok biasa saja ya nonton atau jalan-jalan sendirian, bukan hal yang aneh, ya meskipun beberapa teman kantor terheran-heran saat tahu saya nonton sendirian dan anak-anak di jaga oleh suami. Why not? pertama suami memang tidak suka nonton film, kedua anak-anak tidak ada yang menjaga misalkan kita tinggal nonton bioskop berdua dan ketiga suami sendiri yang mengijinkan dan bersedia menjagan anak-anak sebentar (love you bojo…).

Kemarin saat nonton film aquaman, banyak pengunjung yang mengajak serta anak-anak mereka, ada yang usianya kisaran balita dan ada yang kisaran usia 6 atau 7 tahun. Tidak heran kalau banyak anak-anak malam-malam di weekdays begini datang ke bioskop, karena memang ini kan sudah memasuki liburan sekolah, bahkan saya sendiri sedikit merasa iri karena kepengen juga kapan-kapan mengajak anak-anak nonton. Hanya saja kalau saya pribadi akan sedikit selektif mengenai film apa saja dan di usia berapa anak-anak saya perbolehkan nonton. Selama anak-anak usianya masih di bawah lima tahun sih saya tidak akan mengajak anak-anak nonton bioskop, karena menurut saya sound di dalam bioskop itu masih terlalu bising untuk anak-anak usia balita, dan alasan lainnya karena anak balita itu mudah bosan ketika berdiam diri di satu tempat. Kemarin saya juga melihat sendiri ketika nonton aquaman banyak orangtua yang mengajak serta anak balita mereka padahal aquaman disarankan untuk anak-anak di atas usia 13th, baru nonton sebentar sudah ada balita yang pindah tempat ke tangga yang biasanya dipakai lalu lalang orang dan kemudian orangtua nya berusaha menenangkan supaya anak tsb tetap anteng duduk, ada lagi tepat di sebelah saya ada balita yang sudah klisikan tidak nyaman karena mungkin dia ngantuk dan capek duduk. Saya tidak tau pasti alasan-alasan orangtua tsb mengajak nonton anak-anak mereka, terlebih lagi itu bukan film untuk usianya. Kalau saya pribadi akan menyarankan kepada diri saya, apabila memang mau nonton ya pastikan anak-anak balita ditinggal dirumah dan ada yang bersedia menjaga, apabila tidak ada yang menjaga ya kalau saya pribadi lebih baik mengalah tidak usah nonton daripada nonton bioskop membawa anak balita terlebih itu bukan film anak-anak. Lagipula apa nyaman sih kita nonton film sedangkan anak balita kita terlihat tidak nyaman di dalam bioskop? akhirnya saya malah jadi kasian sama si balita dan saya sendiri juga jadi tidak nyaman nonton.

With Love

Ratih

Dia tempatku belajar..

Dia kadang berteriak, mungkin karena dia kelebihan energi

Dia kadang kasar, mungkin karena motorik nya belum terlatih

Dia kadang pelit, mungkin dia belum sepenuhnya belajar berbagi..

Dibalik semua itu dia sebenarnya baik, dia kadang perhatian dengan sekitarnya. Dia memijit kaki bundanya ketika melihat bundanya lelah. Dia menyuapi adiknya roti ketika dia makan roti. Dia mengingatkan ayahnya untuk tidak merokok ketika ayahnya mulai keluar rumah dan merokok di luar pagar rumah. Dia juga membagi susu kotaknya kepada adiknya ketika bunda sengaja hanya membelikan 1 kemasan susu. Dia membersihkan wajah adiknya dari tepung ketika adiknya asik bermain tepung milik bunda. Dia membantu mencuci piring bekas makannya dia (tanpa diminta)..

Bersabarlah bunda, dia sedang berproses, dan bunda tau berproses itu tidak instan, berproses itu butuh waktu. Kita sebagai orangtua harus sering mengarahkan, tanpa kenal lelah. Jangan mengeluh, jangan melabeli, karena itu akan tertanam dibawah alam sadar bunda dan alam sadar balita mu.

Ingat balita mu sedang belajar, belajar menjadi baik, seperti dirimu yang setiap hari juga belajar menjadi orangtua yang baik. Seperti dirinya, dirimu pun ketika berproses kadang melakukan kesalahan, jadi jangan meluapkan marah padanya, nasihati dengan santun, ketika dia “berlebihan” tegurlah dengan tegas bukan dengan kasar dan bukan pula dengan bentakan atau teriakan

Tersenyumlah dan berbahagialah, karena kebahagianmu adalah surga mereka. Sejauh apapun anak-anak pergi dan bermain, keluarga adalah tempat mereka kembali pulang.

Warm Regards

(Bunda yang harus terus belajar)


Kue Lumpur Surga

Kue tradisional ini beberapa waktu lalu sempat hits di Instagram karena sering muncul di kolom explore instagram. Entah kenapa bisa diberi nama kue lumpur surga, namanya unik dan semoga seenak rasanya ya. Kemarin minggu libur di rumah saya coba buat kue tradisional ini, tetapi tidak sempat fotoin step by step karena terlalu kotor tangan dan berantakannya dapur :D. Ini hanya ada sebagian penampakan yang dikata orang kue lumpur surga:

Kemarin perdana buat kue ini, dan waktu kue sudah matang seperti biasa saya yang baru belajar masak ini excited sekali, karena penasaran bagaimana hasilnya berhasil atau tidak, bagaimana rasanya enak atau tidak, dan bahkan ketika mau dokumentasiin hasil masakan ada lagi lho yang ikut penasaran yaitu si bungsu abrizam yang juga sudah tidak sabar lagi kepengen makan sampai tangannya mau towel towel itu kue (padahal waktu kue sudah dingin dia tidak mau makan, hiks).

Saran saya kalau ada yang mau coba bikin kue ini :

  1. Cari wadah/cup yang agak tinggi karena ketika adonan pertama dituang hasilnya agak naik sedikit, kalau wadah tidak cukup tinggi takutnya nanti lapisan kedua (lapisan putih) tidak bisa muat banyak, padahal lapisan ini penyeimbang rasa karena rasanya yang gurih. Kemarin saya pakai takir daun pisang karena stok cup alumunium foil saya habis. Bagi yang suka aroma daun pisang bisa pakai takir daun pisang, tetapi bagi yang suka simpel bisa pakai cup alumunium foil.
  2. Selain wadah yang agak tinggi, untuk menuang adonan juga harus dikira-kira ya jangan terlalu banyak (diatur disesuaikan saja sama tinggi wadahnya) supaya nanti tidak terlalu memenuhi wadah ketika mau menuang lapisan putihnya
  3. Untuk lapisan putihnya sebaiknya santannya bisa lebih banyak dari yang ada di resep  karena nanti ketika dicampur dengan tepung dan dimasak jadi mengental, pengalaman kemarin saya buat ada 1 wadah yang tidak dapat lapisan putih. Kemarin santan sudah saya lebihi jadi 220ml dari resep aslinya 200ml tetapi masih kurang, baiknya bisa pakai lebih dari 220ml.
  4. Untuk menikmati kue nya, versi nya saya sih saya lebih suka menunggu kue nya hampir dingin/dingin suhu ruangan, karena kalau sudah dingin adonan sudah set. Saya kemarin tidak sabar mencoba ketika kue masih hangat-hangat kuku, tekstur kue nya masih juicy sekali, jadi rasanya agak-agak aneh.

Berikut saya lampirkan resepnya ya:

Sumber : Instagram @lidyatjahjadi

Bahan Lapisan Hijau:
– 1 btr telur
– 3 sdm gula pasir (bagi yang suka manis bisa coba 4sdm)
– 1 sdm tepung terigu
– 130 ml santan
– 30 ml air daun suji yg sudah sari nya ya atau bisa juga pasta pandan. (me: 6 lembar daun pandan diblender dengan 120 ml air)

Bahan Lapisan Putih:
– 200 ml santan (me : 220ml)
– 1 sdt tepung beras
– 1 sdt tepung maizena
– 1 sdt gula
– Sejumput garam
( Lapisan Putih
Campur semua bahan di dalam panci, aduk rata. Lalu masak dgn api kecil sambil diaduk hingga meletup-letup, sisihkan )

Caranya:
⚬Lapisan Hijau
Kocok telur dan gula, tambahkan santan dan air pandan, lalu aduk hingga gula larut. ⚬Tambahkan tepung terigu, aduk rata lagi, lalu saring. ⚬Masukan adonan ke dalam wadah aluminium foil.
atau bisa jg pakai takir daun pisang. ⚬masukan adonan ¾ dari wadah, lalu kukus selama 15 menit kemudian masukan lapisan putih yg sudah dimasak.
⚬Kemudian kukus lagi selama 10 menit. Matikan api, angkat lalu sajikan saat dingin

Note : kalau saya 1/2 butir kelapa bisa jadi 250ml

Selamat mencoba

Warm Regards

Ratih Puspa Dewi

mood swing atau”drama queen” ?

Anak sulung saya usianya 4 tahun 3 bulan pada november ini. Satu minggu belakangan ini suasana hatinya mellow sekali, ditegur sedikit nangis, di marahin sebentar juga nangis. Di sela tangisnya itu ada kalimat baru yang sering dia ucapkan, dia sering bilang:

“dulu waktu keia kecil keia nggak pernah dimarahin ayah bunda”

“kan bunda yang ngelahirin keia, suka beliin keia kue dan baju, kok bunda marah-marah sama keia, katanya sayang”

“dulu waktu ada ayah bunda dan keia, bunda nggak pernah marah-marah”

Di kesehariannya kadang dia memang agak drama, mood swing nya naik turun cepat sekali, baru marah sebentar tetapi beberapa menit kemudian (kalau sudah teralihkan) dia bisa tertawa terbahak-bahak dan tak jarang joget-joget karena ada hal yang lucu, dan bisa juga sebaliknya. Nah, yang terjadi akhir-akhir ini apakah karena kebiasaan dramanya dia atau memang suasana hatinya sedang sendu. Pertama kali saya dengar dia berkata demikian saya kok rasanya pengen ikut mewek dan langsung memeluknya tetapi ternyata pelukan saya di tolak (saya jadi semakin sedih), saya jadi sedih anak kecil seperti keia kok bisa punya pemikiran demikian dan merasa seperti itu, apakah dia merasa tersisih dari adiknya yang berusia 19 bulan.

Keia memang sering bertengkar dengan adiknya, adiknya baru anteng mainan tanpa sebab tiba-tiba dia memukul adiknya, adiknya pinjam mainan langsung dipukul olehnya, dalam sehari sudah tidak bisa dihitung dengan jari, dan sudah tidak terhitung juga seberapa sering saya teriak-teriak ketika melerainya. Apakah anak usia segitu dengan adiknya selalu cemburu seperti keia dengan adiknya ? ? Pertanyaan itu berulangkali saya tanyakan tapi kesimpulan yang saya dapat ketimbang anak-anak lain sepertinya hanya sulung saya yang bersikap demikian

Saya dan suami biasanya marah apabila si kakak sudah mulai bersikap kasar pada barang atau orang di sekitarnya seperti kepada saya,ayahnya dan adiknya, biasanya kalau sudah begitu kita langsung menegur dengan lisan tetapi kalau kasarnya sudah melebihi batas biasanya saya menerapkan hukuman mengurungnya di dalam kamar selama beberapa menit hingga dia mau minta maaf, hal tsb saya lakukan supaya mengurangi keinginan dia untuk lebih banyak menyakiti/bersikap kasar kepada saya/ayahnya/adiknya. Terlepas dari itu saya bersikap wajar kepada kedua anak saya, saya juga menghindari bersikap membanding-bandingkan anak-anak saya, karena saya tidak ingin melukai hati kedua anak-anak saya. Terlebih anak sulung saya ini punya perasaan yang sensitif, jadi saya berusaha sebaik mungkin untuk tidak melakukan hal tsb, karena pasti akan melukai hatinya.

Menjadi orang tua itu belajarnya seumur hidup, ujiannya setiap hari. Terlebih orangtua muda seperti saya dan suami, kalau kata orangtua ini belum seberapa karena anak-anak masih kecil, ujiannya masih seputar kenakalan-kenakalan kecil, perjalanan masih panjang, semoga stok sabar kami masih banyak dan semoga kami bisa meng-upgrade nya setiap hari. Introspeksi, introspeksi, introspeksi, dan perbaiki !!! itu yang harus saya lakukan. Karena saya sadar sepenuhnya bahwa pola asuh yang saya terapkan sekarang akan saya wariskan ke anak-anak saya nantinya, karena yang mereka terima sekarang akan tertanam di bawah alam sadarnya, maka saya tidak ingin menerapkan pola asuh yang sebenarnya salah.

Warm Regards

Ratih Puspa Dewi