Toilet training? coba sekarang?atau nanti aja deh….

Di usia berapa ya anak-anak diharapkan siap menjalani toilet training dan bisa sepenuhnya lepas dari popok sekali pakai? Dari yang pernah saya baca di https://hellosehat.com/parenting/perkembangan-balita/waktu-anak-lepas-popok/ bahwa menurut sebuah studi baru dari American Academy of Pediatrics, orangtua di Amerika percaya bahwa anak bisa lepas popok ketika mereka berusia 18 hingga 24 bulan. Sementara itu, waktu terbaik untuk melatih anak pakai toilet sendiri adalah secepat mungkin. Para pakar pun tak menemukan adanya bahaya jika bayi atau balita mulai lepas popok dan menggunakan toilet sejak dini.

Sebaiknya ajari anak Anda untuk memakai toilet ketika anak sudah bisa mengatur keinginan untuk buang air. Anak yang sudah bisa mengatur keinginan buang air akan buang air besar di waktu yang sama setiap harinya, tidak buang air besar di malam hari, dan memiliki popok yang kering dan bersih setelah 2 jam pemakaian popok atau selama tidur siang. Pastikan juga anak sudah bisa memanjat, berbicara, dan melepas pakaian yang merupakan kemampuan motorik penting untuk bisa memakai toilet ( https://hellosehat.com/parenting/perkembangan-balita/waktu-anak-lepas-popok/ )

Anak yang sudah siap memakai toilet juga siap secara mental. artinya, ia patuh ketika diajarkan dan diminta untuk buang air di toilet. Salah satu tandanya adalah anak Anda mungkin merasa dirinya “sudah gede” sehingga malu untuk pakai popok ( https://hellosehat.com/parenting/perkembangan-balita/waktu-anak-lepas-popok/ )

Dua anak saya menjalani toilet training di usia yang berbeda. Si sulung Keiandhara saya ajarkan toilet training ketika adiknya baru saja dilahirkan tepat di hari ketiga (setelah saya melahirkan dan sepulang saya dari RS) di usia 3 tahun 8 bulan pada tanggal 16 April 2017. Sebenarnya kalau dipikirkan kembali pemilihan waktu itu sedikit merepotkan saya, dengan kondisi saya pasca melahirkan secara operasi dan saya diharuskan merawat bungsu saya yang masih bayi. Saya memilih waktu itu bukanlah tanpa alasan, saya sengaja memilih di waktu saya cuti melahirkan selama 3 bulan dengan alasan supaya saya punya cukup banyak waktu untuk melatihnya secara terus menerus sampai dia benar-benar siap tanpa diapers. Cukup cepat melatihnya,hanya dibutuhkan waktu kurang lebih 1 minggu. Sedangkan si bungsu Abrizam saya ajarkan toilet training di usia 2 tahun 1 bulan, lebih dini dari kakaknya. Pemilihan waktu ini juga saya rasa tepat karena bersamaan dengan libur panjang sebelum lebaran dan pasca lebaran yang totalnya sekitar 11 hari yang saya mulai pada tanggal 30 Mei 2019. Berebeda dengan kakaknya, Abrizam membutuhkan waktu yang lebih lama daripada kakaknya, apakah faktor usia yang lebih muda dan jenis kelamin yang mempengaruhi proses belajarnya ya? atau dikarenakan setiap anak memiliki kesiapan yang berbeda-beda? Untuk Abrizam, dia harus berkali-kali diberi pengertian, bahkan ketika saya tatur di kamar mandi dia tidak mau dan menangis dan beberapa detik setelah keluar dari kamar mandi pipis nya langsung keluar di celana, atau dia baru bilang “pipis” setelah celananya basah. Hari demi hari dia mengalami kemajuan meski tak jarang dia susah menahan keinginan untuk pipis, minta pipis tetapi belum sempat lepas celana sudah keburu keluar.

Lagi-lagi ini berbeda dengan kakaknya dulu, kakaknya juga minum susu sama banyaknya dan saat itu dia belum saya sapih dari botol susunya tetapi saat itu kakaknya tidak se-beser adiknya. Cara lain yang saya coba lakukan supaya abrizam bisa mengontrol keinginan pipisnya adalah saya coba menyapihnya minum susu dari botol, anggapan saya kalau dia minum tanpa botol susu pasti kuantitas minum susunya menurun sehingga abrizam tidak terlalu beser. Betul ternyata, ketika saya mencoba menyapihnya memang dia lebih teratur bilang mau pipis/eek, di tatur pun mau, tetapi dampak lainnya dia seharian jadi lebih rewel, sedikit-sedikit mewek minta gendong, tidur pun minta gendong dan tidak mau tidur di kamar (ini ujian selanjutnya bagi saya). Kemudian saya langsung angkat tangan di hari ke-3 menyapih botol susu , abrizam sudah tidak kooporatif dan dia rewel sekali sehari semalam selama 2 hari, dan tentunya badan saya dan suami juga ikutan tidak kooporatif (kepala pusing dan masuk angin), akhirnya saya menyerah dan botol susu saya berikan kembali padanya. Dan anehnya selepas saya berikan botolnya kembali, setiap dia mau pipis dan eek dia seringnya bilang dan langsung jalan ke kamar madi (hehehe,sapih botol susu jadi semacam ancaman ya). Kemudian keanehan yang lainnya adalah ketika abrizam dijaga oleh kakak saya di rumahnya, seringnya dia tidak mau bilang kalau ingin pipis bahkan ketika di tatur pipis juga tidak mau, padahal ketika di rumah dia lebih teratur dan kooporatif bilang ketika mau pipis dan eek, bahkan ketika di rumah dia saya pakaikan diapers pun dia tetap minta pipisnya di kamar mandi

Dari pengalaman ini saya jadi belajar banyak bahwa memang baiknya ketika mulai melatih toilet training kita harus mempertimbangkan beberapa hal:

1.Pemilihan waktu, cari waktu yang panjang yang memungkinkan melatihnya secara continue tanpa terputus sehari pun hingga toilet training benar-benar berhasil

2.Pemilihan tempat, ketika dilakukan di dua tempat yang berbeda dalam satu hari yang sama (misal pagi-sore dirumah budenya, sore-malam dirumah) adaptasi yang dilaluinya terlalu banyak, adaptasi tempat juga adaptasi harus pipis di kamar mandi. Karena menurut saya kondisi kamar mandi setiap rumah berbeda,contohnya kamar mandi di rumah kakak saya (budenya anak-anak) letaknya agak jauh dari ruang tamu dan ruang keluarga, sehingga dia mungkin malas kalau harus jauh2 jalan pipis ke kamar mandi padahal dia sudah kebelet sekali. Jadi biarkanlah dia benar-benar lulus toilet training dahulu di rumah, artinya kita harus menyediakan lebih banyak waktu (cuti) untuk mengajarinya.

3. Jangan dibarengi dengan menyapih botol, sekali lagi menurut saya dia akan terlalu banyak mengalami adaptasi di waktu yang sama dan mungkin akan mempengaruhi moodnya

4. Bersabarlah, karena ketika toilet training berlangsung kesabaran diuji. Pakaian dan seprei bau pipis banyak yang menumpuk, di setiap penjuru rumah jadi sering basah dan bau pipis yang akibatnya kita harus sering-sering mengepel rumah. Jangan malas menanyakan “pengen pipis ndak?” dan jangan malas untuk sering mengajaknya kekamar mandi. Selain bersabar kita juga harus teguh pendiriannya, jangan hanya karena capek dan tidak sabar lalu kita berhenti melatihnya di tengah jalan (karena saya beberapa kali berpikir begitu ketika melatih si bungsu,hehe).

With Love

Ratih

tatur : dipangku sedemikian rupa agar buang air

beser : /be·ser/ /bésér/ a sebentar-sebentar kencing;

Daftar pustaka:

  1. https://hellosehat.com/parenting/perkembangan-balita/waktu-anak-lepas-popok/ . Diakses 19 Juni 2019
  2. https://glosarium.org/arti-tatur/ . Diakses 19 Juni 2019
  3. https://kbbi.web.id/beser . Diakses 19 Juni 2019

Iklan

Man flu?Pernah dengar?

Hai, selamat datang musim hujan, musim hujan kesukaanku, semoga kita senantiasa bisa tetap menjaga kesehatan dan selalu dalam lindungan Allah SWT.

Sudah hampir 10 tahun saya mengenal suami saya, tentu saja ini terhitung dari saya mulai berkenalan dengannya, pacaran, menikah hingga sekarang. Sudah hampir 10 tahun pula saya mengamati suami saya sat terkena flu, rasa-rasanya saya melihat dia seperti menderita dan tersiksa sekali, padahal saya sendiri atau anak-anak kalau terkena flu juga nampaknya tidak separah seperti suami saya. Saya pikir mungkin memang karena dia sering beraktivitas di luar ruangan,terkena panas/angin bahkan hujan dan tak jarang juga kecapekan sehingga kekebalan tubuh dia juga tidak sebaik tubuh saya.

Kemudian sampailah pada saat saya membaca sebuah novel online di wattpad novel tsb menyinggung sedikit menganai “Man flu”. Saya juga baru tahu jika ada istilah “Man flu”, apa itu man flu? Saya penasaran, kemudian seperti kebanyakan manusia yang hidup di jaman serba internet, saya akhirnya mencari tahu dari google mengenai istilah tsb, saya buka wilkipedia terjemahan kemudian saya baca di daftar pustakanya (1) . Salah satu jurnal kesehatan yang saya baca dari The Telegraph cukup menarik buat saya, meskipun saya harus membacanya secara berulang, karena menurut saya pribadi terjemahan versi google kalimatnya tidak baku (harusnya saya lebih banyak belajar bahasa inggris supaya bisa terjemahin sendiri, hehehe), tapi bagaimanapun juga saya berterimakasih sama google (jempol deh buat google).


Flu manusia bukanlah mitos, klaim para ilmuwan, yang menemukan pria lebih menderita karena mereka berinvestasi dalam semangat petualangan mereka dengan mengorbankan sistem kekebalan tubuh mereka.

(2)

Kemudian Richard Alleyne di jurnalnya menuliskan bahwa :


Para peneliti mengatakan produksi hormon seks estrogen pada wanita bisa memiliki efek menguntungkan pada respon bawaan mereka terhadap penyakit yang menyebabkan serangga.
Mereka menemukan itu meningkatkan kekebalan wanita yang mewakili garis pertahanan pertama tubuh terhadap virus seperti flu.

(3)

Jadi kesimpulan yang saya dapat dari kutipan di atas adalah perbedaan jenis kelamin mempengaruhi tingkat kekebalan seseorang, wanita mempunyai tingkat kekebalan yang lebih bagus dari pria karena hormon ekstrogen yang diproduksi wanita melindungi bagian tubuh yang mudah terpapar oleh infeksi (cmiiw).

I see… jadi ini penyebabnya, ketika suami saya flu dia jadi terlihat sangat teler & lemah seperti sedang sakit parah dan nampak seperti membutuhkan perawatan ekstra. Kalau saya ingat-ingat, ketika dia flu memang efek yang terlihat sangat lebay, kemudian flu nya juga berlangsungnya lama hingga dua minggu lebih. Kalau sudah tau begini kan ke depannya ketika memasuki musim yang ekstrim dan rentan terjangkit flu, saya bisa mengambil antisipasi tambahan. Ketika saya dan anak-anak flu biasanya saya cukup minta mereka untuk makan yang cukup, banyak istirahat dan tidur tepat waktu, sedangkan khusus untuk suami saya sepertinya harus ada tambahn vitamin.

Mari jaga kesehatan kita di musim hujan ini, hadapi musim hujan dengan gembiran dan banyak doa.

With Love

Ratih Puspa Dewi

Daftar Pustaka

  1. https://en.wikipedia.org/wiki/Man_flu . Diakses 10 Januari 2019
  2. Alleyne, Richard (2010-03-24). “Flu manusia bukanlah mitos karena para ilmuwan membuktikan bahwa pria lebih banyak menderita penyakit” . The Daily Telegraph . London . Diakses 10 Januari 2019 .
  3. Alleyne, Richard (2009-05-12). “Pria menyerah pada manflu karena wanita memiliki sistem kekebalan yang lebih kuat, klaim para ilmuwan” . The Daily Telegraph . London . Diakses pada 10 Januari 2019 .

Catatan harian suami yang ingin berhenti merokok

Meniadakan hal yang biasanya menjadi rutinitas memang berat, apalagi jika itu sudah berlangsung selama hampir berpuluh tahun. Semua itu tetap butuh penyesuaian, penyesuaian rasa, penyesuaian waktu, penyesuaian sikap, penyesuaian sistem kerja tubuh. Di sini saya ingin menuliskan proses suami saya ketika mencoba berhenti merokok, kenapa saya bilang mencoba berhenti? ini karena saya tidak ingin muluk-muluk dulu dan karena sampai saat saya menuliskan ini, suami saya masih dalam tahap mencoba, belum sepenuhnya berhenti, harapannya sih dia mau berhenti total suatu saat nanti. Yang ingin saya bagikan disini tidak hanya dari sudut pandang saya saja tetapi juga dari sudut pandang suami saya. Saya menulis ini juga agar saya lebih banyak memberi semangat kepada suami saya.

Kapan? Kapan tepatnya dia termotivasi ingin mencoba berhenti? Saya masih ingat waktu itu menjelang akhir bulan november. Tanggal 24 November 2018 ketika suami saya pulang kerja dia mengeluh sakit kepala (kepalanya berat dan pandangan beputar-putar). Memang satu minggu terakhir itu anak-anak juga terserang batuk pilek, saya sendiri sudah batuk pilek tetapi tidak parah, dan hal ini tidak luput dari suami saya, tak terkecuali dia, dia juga ikut terserang batuk pilek bahkan bisa dikatakan serumah itu dia yang paling parah sakitnya, hal ini juga disebabkan karena di bulan november ini dia memforsir tenaga dan pikirannya untuk bekerja ekstra keras menghadapi gathering kantornya (dia termotivasi untuk tutup target, setelah perjuangan yang berdarah-darah akhirnya tutup target dong ya, yeyeye lalalala..) dan dia juga membantu mengelola peremajaan saluran air di tiap rumah dalam 1 RT di komplek tempat tinggal kami. Tanggal 25 November malam dia semakin merasa tidak enak badan, badanya lemah, dia mengigil kedinginan, dia terus-terusan batuk, dan dadanya sakit ketika dia batuk. Tanggal 26 November saya memaksanya untuk beristirahat di rumah dan memintanya ijin tidak bekerja, saya bilang memaksa karena aahhhh… dia itu susah sekali dibujuk untuk istirahat, jatah cuti yang menjadi hak dia saja dia tidak ambil, apalagi sampai mangkir tidak bekerja yang menyebabkan  terpaksa dia mendadak harus membatalkan semua rencana pekerjaannya. Di momen dia sakit inilah, saya mengeluarkan jurus-jurus saya agar dia mau berkaca dan berpikir kembali supaya dia mempertimbangkan untuk berhenti merokok.

Apa motivasinya? kalimat atau tindakan apa sih yang bikin kamu makjleb dan berpikir “ini udah saatnya saya harus mencoba” ? Kalau dari penuturan suami sih dia bilang tidak ada motivasi atau tidak ada hal-hal yang bikin dia makjleb, dia berhenti hanya karena sering diomelin saya setiap merokok. Sederhana banget ya alasannya dan jawaban dia makjleb buat saya,hahaha. Tapi saya bersyukur karena omelan saya setiap hari yang berlangsung selama bertahun-tahun akhirnya ada hasilnya juga, karena saya juga sebenarnya capek setiap hari harus ceriwis menasehati suami saya supaya tidak dekat dekat anak/rumah kalau merokok, habis merokok harus cuci tangan cuci muka dan ganti baju dll.

Apa harapannya setelah berhenti merokok? Untuk harapannya dia menyampaikan karena ingin hidup lebih sehat. Kalau saya pribadi sih ingin dia berhenti merokok karena selain menginginkan dia hidup lebih sehat saya juga ingin bisa menua bersamanya, meski sudah tua nanti saya masih ingin nunak nunuk bersamanya, kemana-mana bersama, bisa jalan-jalan ke banyak tempat, melakukan banyak hal bersama, bisa bermain dan mengasuh cucu di masa tua saya. Jadi saya ingin dia sehat tidak untuk hari ini saja tapi untuk masa depan.

Langkah-langkah yang dilakukan untuk berhenti merokok? Tanggapan orang sekitar ?Selama kurang lebih 1 minggu pertama suami saya langsung stop merokok, yang dirasakan susah sekali dan dia sering merasa gelisah, frekuensinya ngemil dan makan besar juga lebih sering dari biasanya, karena ketika dia tidak merokok dia jadi sering merasa lapar, di tengah malam pun dia sering terbangun dari tidur karena perut merasa lapar. Di minggu berikutnya polanya dirubah, dia merokok tetapi hanya 1 kali atau 2 kali dalam satu hari atau kadang tidak sama sekali, jadi tidak seperti minggu pertama yang langsung stop benar-benar tidak merokok. Dia ingin perlahan mengurangi bukan langsung stop, karena menurutnya tubuhnya butuh penyesuaian diri begitu juga lingkungannya. Dia merokok 1 hari 1 atau 2 batang pun karena untuk menjaga hubungan pertemanan karena di tempat kerja dan di lingkungan rumah hampir semuanya merokok dan baginya berhenti merokok itu mengurangi hubungan pertemanannya, ketika dia tidak merokok teman-teman jadi merasa segan untuk mengajaknya berkumpul dan mengobrol. Ya memang ada betulnya kalau teman-teman menjadi segan, ada tetangga dekat yang sering kongkow sambil ngopi dan merokok di teras rumah hingga tengah malam, sekarang jadi jarang main ke rumah karena alasannya kasian anak-anak saya yang masih kecil kena asap rokok. Kemudian rekan kerjanya yang biasanya order barang-barang sambil mengajaknya ngobrol, sekarang jadi tidak banyak ngobrol dengannya. Kalau saya sendiri menanggapinya positif, memang tetangga dan temannya di awal-awal pasti merasakan segan tetapi nanti perlahan mereka akan menghormati prinsip suami saya. Dan saya juga bersyukur yang biasanya dia merokok sehari semalam bisa 12 batang, sekarang sehari semalam 1-2 kadang malahan berhari-hari tidak merokok sama sekali.

Yang dirasakan setelah mencoba berhenti merokok? Karena ini masih berlangsung 1 bulan jadi perubahannya belum terlalu banyak, kata suami sih dia jadi jarang batuk-batuk. Oya di awal tadi saya bercerita pada di dua minggu pertamanya dia berusaha berhenti merokok suami saya jadi lebih sering ngemil dan sering makan besar, tetapi semakin kesini intensitas ngemil dan makan besarnya kembali normal dan setelah 1 bulan ini berat badan suami saya sedikit berkurang, saya tidak tahu korelasinya kalau dilihat secara medis, tapi saya malahan bersyukur karena suami saya tergolong over weight. Sekecil apapun efek yang terlihat, saya sudah bersyukur sekali karena dia punya kemauan untuk ke arah lebih baik saja itu sudah langkah besar menurut saya. Kita tidak pernah tahu kita akan hidup sampai diumur berapa, jadi sebisa mungkin kita harus menjaga kesehatan kita. Sederhana sih, saya hanya tidak ingin suatu hari nanti kondisi kesehatan saya menjadi beban untuk orang lain.

Semoga suami saya tetap semangat berusaha dan saya juga tetap semangat dalam memotivasinya. Kan memang seharusnya seperti itulah suami dan istri, saling memberikan motivasi untuk melakukan banyak hal positif.

Bismillah dan Alhamdulillah

Ratih Puspa Dewi


Dia tempatku belajar..

Dia kadang berteriak, mungkin karena dia kelebihan energi

Dia kadang kasar, mungkin karena motorik nya belum terlatih

Dia kadang pelit, mungkin dia belum sepenuhnya belajar berbagi..

Dibalik semua itu dia sebenarnya baik, dia kadang perhatian dengan sekitarnya. Dia memijit kaki bundanya ketika melihat bundanya lelah. Dia menyuapi adiknya roti ketika dia makan roti. Dia mengingatkan ayahnya untuk tidak merokok ketika ayahnya mulai keluar rumah dan merokok di luar pagar rumah. Dia juga membagi susu kotaknya kepada adiknya ketika bunda sengaja hanya membelikan 1 kemasan susu. Dia membersihkan wajah adiknya dari tepung ketika adiknya asik bermain tepung milik bunda. Dia membantu mencuci piring bekas makannya dia (tanpa diminta)..

Bersabarlah bunda, dia sedang berproses, dan bunda tau berproses itu tidak instan, berproses itu butuh waktu. Kita sebagai orangtua harus sering mengarahkan, tanpa kenal lelah. Jangan mengeluh, jangan melabeli, karena itu akan tertanam dibawah alam sadar bunda dan alam sadar balita mu.

Ingat balita mu sedang belajar, belajar menjadi baik, seperti dirimu yang setiap hari juga belajar menjadi orangtua yang baik. Seperti dirinya, dirimu pun ketika berproses kadang melakukan kesalahan, jadi jangan meluapkan marah padanya, nasihati dengan santun, ketika dia “berlebihan” tegurlah dengan tegas bukan dengan kasar dan bukan pula dengan bentakan atau teriakan

Tersenyumlah dan berbahagialah, karena kebahagianmu adalah surga mereka. Sejauh apapun anak-anak pergi dan bermain, keluarga adalah tempat mereka kembali pulang.

Warm Regards

(Bunda yang harus terus belajar)


mood swing atau”drama queen” ?

Anak sulung saya usianya 4 tahun 3 bulan pada november ini. Satu minggu belakangan ini suasana hatinya mellow sekali, ditegur sedikit nangis, di marahin sebentar juga nangis. Di sela tangisnya itu ada kalimat baru yang sering dia ucapkan, dia sering bilang:

“dulu waktu keia kecil keia nggak pernah dimarahin ayah bunda”

“kan bunda yang ngelahirin keia, suka beliin keia kue dan baju, kok bunda marah-marah sama keia, katanya sayang”

“dulu waktu ada ayah bunda dan keia, bunda nggak pernah marah-marah”

Di kesehariannya kadang dia memang agak drama, mood swing nya naik turun cepat sekali, baru marah sebentar tetapi beberapa menit kemudian (kalau sudah teralihkan) dia bisa tertawa terbahak-bahak dan tak jarang joget-joget karena ada hal yang lucu, dan bisa juga sebaliknya. Nah, yang terjadi akhir-akhir ini apakah karena kebiasaan dramanya dia atau memang suasana hatinya sedang sendu. Pertama kali saya dengar dia berkata demikian saya kok rasanya pengen ikut mewek dan langsung memeluknya tetapi ternyata pelukan saya di tolak (saya jadi semakin sedih), saya jadi sedih anak kecil seperti keia kok bisa punya pemikiran demikian dan merasa seperti itu, apakah dia merasa tersisih dari adiknya yang berusia 19 bulan.

Keia memang sering bertengkar dengan adiknya, adiknya baru anteng mainan tanpa sebab tiba-tiba dia memukul adiknya, adiknya pinjam mainan langsung dipukul olehnya, dalam sehari sudah tidak bisa dihitung dengan jari, dan sudah tidak terhitung juga seberapa sering saya teriak-teriak ketika melerainya. Apakah anak usia segitu dengan adiknya selalu cemburu seperti keia dengan adiknya ? ? Pertanyaan itu berulangkali saya tanyakan tapi kesimpulan yang saya dapat ketimbang anak-anak lain sepertinya hanya sulung saya yang bersikap demikian

Saya dan suami biasanya marah apabila si kakak sudah mulai bersikap kasar pada barang atau orang di sekitarnya seperti kepada saya,ayahnya dan adiknya, biasanya kalau sudah begitu kita langsung menegur dengan lisan tetapi kalau kasarnya sudah melebihi batas biasanya saya menerapkan hukuman mengurungnya di dalam kamar selama beberapa menit hingga dia mau minta maaf, hal tsb saya lakukan supaya mengurangi keinginan dia untuk lebih banyak menyakiti/bersikap kasar kepada saya/ayahnya/adiknya. Terlepas dari itu saya bersikap wajar kepada kedua anak saya, saya juga menghindari bersikap membanding-bandingkan anak-anak saya, karena saya tidak ingin melukai hati kedua anak-anak saya. Terlebih anak sulung saya ini punya perasaan yang sensitif, jadi saya berusaha sebaik mungkin untuk tidak melakukan hal tsb, karena pasti akan melukai hatinya.

Menjadi orang tua itu belajarnya seumur hidup, ujiannya setiap hari. Terlebih orangtua muda seperti saya dan suami, kalau kata orangtua ini belum seberapa karena anak-anak masih kecil, ujiannya masih seputar kenakalan-kenakalan kecil, perjalanan masih panjang, semoga stok sabar kami masih banyak dan semoga kami bisa meng-upgrade nya setiap hari. Introspeksi, introspeksi, introspeksi, dan perbaiki !!! itu yang harus saya lakukan. Karena saya sadar sepenuhnya bahwa pola asuh yang saya terapkan sekarang akan saya wariskan ke anak-anak saya nantinya, karena yang mereka terima sekarang akan tertanam di bawah alam sadarnya, maka saya tidak ingin menerapkan pola asuh yang sebenarnya salah.

Warm Regards

Ratih Puspa Dewi


Bersyukur atau membandingkan????

Jangan membanding apapun yang ada di hidup kamu, just don’t!!!! kecuali yang ingin kamu bandingin adalah harga cabe per kg nya di warung pak min lebih murah daripada harga cabe di warung bu dul, kalau ini sih harus ya supaya menghemat uang belanja buat beli lipstik baru, 🙂

Apa yang kamu dapat dari membanding-bandingkan? kalau menurut saya tidak ada manfaat baiknya, yang di dapat malahan sakit hati baik itu yang dibandingkan ataupun yang membandingkan.

bapak: kamu mau kuliah?
anak: iya pak, saya mau kuliah
bapak: tapi kan kamu tidak sepintar sepupu kamu itu, mana bisa kamu kuliah,lagipula bapak tidak punya uang untuk mengkuliahkan kamu!!!

Sepenggal percakapan ini makjleb ya di hati, pertama orangtua memberitahu tidak bisa mengkuliahkan dan kedua orangtua juga membandingkan bahwa si anak tidak sepintar saudara sepupunya, double strike!!! Tuh kan saya yang nulis dan kemudian membacanya sakit hati apalagi kalau ada yang pernah mengalami.

Jauhkan lah dari otak kita pikiran-pikiran untuk membandingkan apapun. Sebelum kita  membanding-bandingkan kita harus pikirkan dulu reaksi apa yang timbul dan apakah aksi yang di lakukan atas bentuk dari reaksi tsb bersifat positif. Seperti contoh di atas tadi, sebelum membanding-bandingkan si anak dengan sepupunya harusnya orangtuanya berpikir dahulu nanti si anak reaksinya bagaimana apakah sakit hati atau biasa saja, dan nanti kira-kira bagaimana ya aksi nya apakah anak tsb akan terpacu untuk bekerja sambil kuliah dan anak tsb kemudian belajar sungguh-sungguh supaya IPK nya bisa bagus atau alih-alih anak tsb terpacu semangatnya malahan anak tsb jadi sakit hati dan minder kemudian mengubur dalam-dalam impiannya untuk melanjutkan kuliah. Selain itu sebelum membandingkan sebaiknya kita pikirkan dulu apa tujuan dari kita membanding-bandingkan, apakah untuk memacu semangat atau memang untuk merendahkan atau yang lebih parah lagi tidak memikirkan sama sekali tujuannya karena asal bicara saja (ini sih menyebalkan ya kalau menurut saya).

bapak : si adek kok nggak kayak kakaknya ya bu
ibu : maksudnya gimana pak
bapak : iya itu si kakak kok baik ya nggak kerja tapi bisa kasih uang ke kita Rp.1.000.000, kalau adek kok cuma kasih Rp.500.000, padahal adek kan yang pendidikannya tinggi dan kerja juga
ibu : #$%^&%$$^***&&%$$

*ya tuhan, bukannya bersukur atas rejeki dan atas usaha anak menyenangkan orangtua ini malahan menggerutu dan membanding-bandingkan.

Itu hanya sederet kecil percakapan tentang membandingkan, masih banyak percakapan-percakapan lainnya yang berisi membandingkan. Kalau kita punya waktu luang buat membandingkan-bandingkan hidup kita, seperti pekerjaan kita, rejeki kita, anak/suami/istri/orangtua kita kenapa sih waktu luang kita tidak kita gunakan saja untuk bersyukur atas apa yang diberikan kepada kita. Setelah membandingkan biasanya kita meratapi nasib kenapa tidak sesuai dengan harapan kita. Daripada membandingkan alangkah baiknya kalau bersyukur dan bila menurutmu masih kurang maka upayakan apa yang menurutmu masih kurang lalu berusahalah sesuai dengan kemampuan, jangan memaksa.

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”
(QS. Ibrahim 14: Ayat 7)

Please, bijaksanalah sebelum berbicara dan berpikirlah sebelum menyampaikan maksud kita kepada orang lain.

 

*reaksi/re·ak·si/ /réaksi/ n 1 kegiatan (aksi, protes) yang timbul akibat suatu gejala atau suatu peristiwa

*aksi/ak·si/ 1 n gerakan, 2 n tindakan, 3 n sikap (gerak-gerak, tingkah laku) yang dibuat-buat

 


https://kbbi.web.id/reaksi (diakses pada 24 Oktober 2018, pukul 15.27)

https://kbbi.web.id/aksi (diakses pada 24 Oktober 2018, pukul 15.30)

 

Warm Regards

Ratih Puspa Dewi

 

 

 

Kata siapa?kenapa?

Makan siang kali ini di warung tenda sederhana yang terletak di dalam gang kecil di seberang kantor. Menu makannya nasi separuh porsi ditambah sayur bening bayam, acar kuning timun dan wortel, ditambah putih telur bumbu bali, dengan ditemani es teh manis.

Makan siang kali ini aku tergelitik bertanya kepada patner kerjaku yang usianya sudah separuh abad lebih. Pertanyaan tidak penting tapi sedikit bikin penasaran. Tentang orang jawa yang percaya tidak boleh menanam pohon pisang, pohon pepaya dan cabe. Padahal sudah jelas orang yang kutanyai ini adalah orang yang beretnis tionghoa, aku hanya iseng bertanya karena barangkali dia bisa menjawab pertanyaanku, tetapi nihil.

Kenapa cabe tidak boleh ditanam di depan rumah? kebetulan yang saat ini saya tanam dan sudah tumbuh di rumah adalah cabe dan tomat, sudah beberapa kali suami dan saya diperingatkan untuk memindahkan tanaman cabe yang ada di luar pagar rumah. Ya, saya enggan menanyakan kepada meraka atas alasan kenapa tidak diperbolehkan, karena mereka pasti akan menjawab “ya kata orangtua tidak boleh”. Saya butuh penjelasan logis yang masuk akal. Tapi keinginan saya tidak begitu besar untuk mendapat jawabannya, saya hanya kepingin tahu, tapi tidak terlalu antusias, kalau tidak mendapat jawaban ya sudah, toh saya akan tetap membiarkan tanaman itu di tempatnya, dan akan saya pindah apabila tumbuhnya sudah tidak bagus.

Bagi saya apa masalahnya menanam cabe? toh saya tidak merugikan siapapun, saya juga menanamnya di lahan saya bukan di lahan tetangga. Kalau yang saya tanam ini berguna, lantas di mana letak salahnya. Saya pun tidak masalah ketika cabe-cabe itu dan tomat yang saya tanam sudah tumbuh buahnya dan diambil oleh orang (dengan atau tanpa permisi). Yang jadi masalah kan kalau saya menanamnya kemudian misalkan cabe/tomat tsb diambil orang tanpa ijin kemudian saya marah-marah tidak karuan bahkan sampai menimbulkan keributan dan ketidaknyamanan di sekitar rumah saya. Saya rasa menanam buah apapun juga akan tetap menimbulkan masalah kalau kita tidak legowo dengan resiko yang akan terjadi bila buah itu dinikmati orang lain tanpa ijin, apapun itu ada resikonya tergantung kita legowo apa tidak.

Saya juga sebenernya enggan mendengar alasan-alasan yang tidak masuk akal yang sering beredar di masyarakat yang akhirnya saya terjemahkan bahwa itu adalah mitos. Saya lebih memilih mencari jawabannya secara logis. Contoh kasus : ibu menyusui tidak boleh minum es nanti anaknya jadi masuk angin dan flu, itu tadi menurut saya hanya mitos, karena mungkin jaman dulu leluhur kita masih terbatas informasi dan teknologi sehingga bingung menjelaskan alasan ilmiah kepada anak cucunya tentang sebab akibatnya suatu hal. Kan sebenarnya si ibu menyusui ini yang kondisinya sering begadang dengan badang kurang fit berati antibodinya baru lemah lalu kebetulan minum es kebanyakan dan akhirnya dia flu sehingga dia tidak bisa menyusui dengan maksimal karena kepala pusing dan hidung meler, dan akhirnya kemudian dia menularkan virus flu ke bayi dan akhirnya bayi nya ikutan flu, begitu kan benang merahnya.

Bukannya tidak mau mendengarkan petuah orangtua, saya hanya ingin tahu kenapa ada hal yang tidak boleh dilakukan? apa sebabnya?apa pengaruhnya kalau tidak dilakukan, dan jawaban-jawaban yang diberikan itu masuk akal atau tidak, kalau masuk akal maka saya akan berusaha mematuhinya, simpel kan.

 

Warm regards

Ratih