Man flu?Pernah dengar?

Hai, selamat datang musim hujan, musim hujan kesukaanku, semoga kita senantiasa bisa tetap menjaga kesehatan dan selalu dalam lindungan Allah SWT.

Sudah hampir 10 tahun saya mengenal suami saya, tentu saja ini terhitung dari saya mulai berkenalan dengannya, pacaran, menikah hingga sekarang. Sudah hampir 10 tahun pula saya mengamati suami saya sat terkena flu, rasa-rasanya saya melihat dia seperti menderita dan tersiksa sekali, padahal saya sendiri atau anak-anak kalau terkena flu juga nampaknya tidak separah seperti suami saya. Saya pikir mungkin memang karena dia sering beraktivitas di luar ruangan,terkena panas/angin bahkan hujan dan tak jarang juga kecapekan sehingga kekebalan tubuh dia juga tidak sebaik tubuh saya.

Kemudian sampailah pada saat saya membaca sebuah novel online di wattpad novel tsb menyinggung sedikit menganai “Man flu”. Saya juga baru tahu jika ada istilah “Man flu”, apa itu man flu? Saya penasaran, kemudian seperti kebanyakan manusia yang hidup di jaman serba internet, saya akhirnya mencari tahu dari google mengenai istilah tsb, saya buka wilkipedia terjemahan kemudian saya baca di daftar pustakanya (1) . Salah satu jurnal kesehatan yang saya baca dari The Telegraph cukup menarik buat saya, meskipun saya harus membacanya secara berulang, karena menurut saya pribadi terjemahan versi google kalimatnya tidak baku (harusnya saya lebih banyak belajar bahasa inggris supaya bisa terjemahin sendiri, hehehe), tapi bagaimanapun juga saya berterimakasih sama google (jempol deh buat google).


Flu manusia bukanlah mitos, klaim para ilmuwan, yang menemukan pria lebih menderita karena mereka berinvestasi dalam semangat petualangan mereka dengan mengorbankan sistem kekebalan tubuh mereka.

(2)

Kemudian Richard Alleyne di jurnalnya menuliskan bahwa :


Para peneliti mengatakan produksi hormon seks estrogen pada wanita bisa memiliki efek menguntungkan pada respon bawaan mereka terhadap penyakit yang menyebabkan serangga.
Mereka menemukan itu meningkatkan kekebalan wanita yang mewakili garis pertahanan pertama tubuh terhadap virus seperti flu.

(3)

Jadi kesimpulan yang saya dapat dari kutipan di atas adalah perbedaan jenis kelamin mempengaruhi tingkat kekebalan seseorang, wanita mempunyai tingkat kekebalan yang lebih bagus dari pria karena hormon ekstrogen yang diproduksi wanita melindungi bagian tubuh yang mudah terpapar oleh infeksi (cmiiw).

I see… jadi ini penyebabnya, ketika suami saya flu dia jadi terlihat sangat teler¬†& lemah seperti sedang sakit parah dan nampak seperti membutuhkan perawatan ekstra. Kalau saya ingat-ingat, ketika dia flu memang efek yang terlihat sangat lebay, kemudian flu nya juga berlangsungnya lama hingga dua minggu lebih. Kalau sudah tau begini kan ke depannya ketika memasuki musim yang ekstrim dan rentan terjangkit flu, saya bisa mengambil antisipasi tambahan. Ketika saya dan anak-anak flu biasanya saya cukup minta mereka untuk makan yang cukup, banyak istirahat dan tidur tepat waktu, sedangkan khusus untuk suami saya sepertinya harus ada tambahn vitamin.

Mari jaga kesehatan kita di musim hujan ini, hadapi musim hujan dengan gembiran dan banyak doa.

With Love

Ratih Puspa Dewi

Daftar Pustaka

  1. https://en.wikipedia.org/wiki/Man_flu . Diakses 10 Januari 2019
  2. Alleyne, Richard (2010-03-24). “Flu manusia bukanlah mitos karena para ilmuwan membuktikan bahwa pria lebih banyak menderita penyakit” . The Daily Telegraph . London . Diakses 10 Januari 2019 .
  3. Alleyne, Richard (2009-05-12). “Pria menyerah pada manflu karena wanita memiliki sistem kekebalan yang lebih kuat, klaim para ilmuwan” . The Daily Telegraph . London . Diakses pada 10 Januari 2019 .

Iklan

Catatan harian suami yang ingin berhenti merokok

Meniadakan hal yang biasanya menjadi rutinitas memang berat, apalagi jika itu sudah berlangsung selama hampir berpuluh tahun. Semua itu tetap butuh penyesuaian, penyesuaian rasa, penyesuaian waktu, penyesuaian sikap, penyesuaian sistem kerja tubuh. Di sini saya ingin menuliskan proses suami saya ketika mencoba berhenti merokok, kenapa saya bilang mencoba berhenti? ini karena saya tidak ingin muluk-muluk dulu dan karena sampai saat saya menuliskan ini, suami saya masih dalam tahap mencoba, belum sepenuhnya berhenti, harapannya sih dia mau berhenti total suatu saat nanti. Yang ingin saya bagikan disini tidak hanya dari sudut pandang saya saja tetapi juga dari sudut pandang suami saya. Saya menulis ini juga agar saya lebih banyak memberi semangat kepada suami saya.

Kapan? Kapan tepatnya dia termotivasi ingin mencoba berhenti? Saya masih ingat waktu itu menjelang akhir bulan november. Tanggal 24 November 2018 ketika suami saya pulang kerja dia mengeluh sakit kepala (kepalanya berat dan pandangan beputar-putar). Memang satu minggu terakhir itu anak-anak juga terserang batuk pilek, saya sendiri sudah batuk pilek tetapi tidak parah, dan hal ini tidak luput dari suami saya, tak terkecuali dia, dia juga ikut terserang batuk pilek bahkan bisa dikatakan serumah itu dia yang paling parah sakitnya, hal ini juga disebabkan karena di bulan november ini dia memforsir tenaga dan pikirannya untuk bekerja ekstra keras menghadapi gathering kantornya (dia termotivasi untuk tutup target, setelah perjuangan yang berdarah-darah akhirnya tutup target dong ya, yeyeye lalalala..) dan dia juga membantu mengelola peremajaan saluran air di tiap rumah dalam 1 RT di komplek tempat tinggal kami. Tanggal 25 November malam dia semakin merasa tidak enak badan, badanya lemah, dia mengigil kedinginan, dia terus-terusan batuk, dan dadanya sakit ketika dia batuk. Tanggal 26 November saya memaksanya untuk beristirahat di rumah dan memintanya ijin tidak bekerja, saya bilang memaksa karena aahhhh… dia itu susah sekali dibujuk untuk istirahat, jatah cuti yang menjadi hak dia saja dia tidak ambil, apalagi sampai mangkir tidak bekerja yang menyebabkan  terpaksa dia mendadak harus membatalkan semua rencana pekerjaannya. Di momen dia sakit inilah, saya mengeluarkan jurus-jurus saya agar dia mau berkaca dan berpikir kembali supaya dia mempertimbangkan untuk berhenti merokok.

Apa motivasinya? kalimat atau tindakan apa sih yang bikin kamu makjleb dan berpikir “ini udah saatnya saya harus mencoba” ? Kalau dari penuturan suami sih dia bilang tidak ada motivasi atau tidak ada hal-hal yang bikin dia makjleb, dia berhenti hanya karena sering diomelin saya setiap merokok. Sederhana banget ya alasannya dan jawaban dia makjleb buat saya,hahaha. Tapi saya bersyukur karena omelan saya setiap hari yang berlangsung selama bertahun-tahun akhirnya ada hasilnya juga, karena saya juga sebenarnya capek setiap hari harus ceriwis menasehati suami saya supaya tidak dekat dekat anak/rumah kalau merokok, habis merokok harus cuci tangan cuci muka dan ganti baju dll.

Apa harapannya setelah berhenti merokok? Untuk harapannya dia menyampaikan karena ingin hidup lebih sehat. Kalau saya pribadi sih ingin dia berhenti merokok karena selain menginginkan dia hidup lebih sehat saya juga ingin bisa menua bersamanya, meski sudah tua nanti saya masih ingin nunak nunuk bersamanya, kemana-mana bersama, bisa jalan-jalan ke banyak tempat, melakukan banyak hal bersama, bisa bermain dan mengasuh cucu di masa tua saya. Jadi saya ingin dia sehat tidak untuk hari ini saja tapi untuk masa depan.

Langkah-langkah yang dilakukan untuk berhenti merokok? Tanggapan orang sekitar ?Selama kurang lebih 1 minggu pertama suami saya langsung stop merokok, yang dirasakan susah sekali dan dia sering merasa gelisah, frekuensinya ngemil dan makan besar juga lebih sering dari biasanya, karena ketika dia tidak merokok dia jadi sering merasa lapar, di tengah malam pun dia sering terbangun dari tidur karena perut merasa lapar. Di minggu berikutnya polanya dirubah, dia merokok tetapi hanya 1 kali atau 2 kali dalam satu hari atau kadang tidak sama sekali, jadi tidak seperti minggu pertama yang langsung stop benar-benar tidak merokok. Dia ingin perlahan mengurangi bukan langsung stop, karena menurutnya tubuhnya butuh penyesuaian diri begitu juga lingkungannya. Dia merokok 1 hari 1 atau 2 batang pun karena untuk menjaga hubungan pertemanan karena di tempat kerja dan di lingkungan rumah hampir semuanya merokok dan baginya berhenti merokok itu mengurangi hubungan pertemanannya, ketika dia tidak merokok teman-teman jadi merasa segan untuk mengajaknya berkumpul dan mengobrol. Ya memang ada betulnya kalau teman-teman menjadi segan, ada tetangga dekat yang sering kongkow sambil ngopi dan merokok di teras rumah hingga tengah malam, sekarang jadi jarang main ke rumah karena alasannya kasian anak-anak saya yang masih kecil kena asap rokok. Kemudian rekan kerjanya yang biasanya order barang-barang sambil mengajaknya ngobrol, sekarang jadi tidak banyak ngobrol dengannya. Kalau saya sendiri menanggapinya positif, memang tetangga dan temannya di awal-awal pasti merasakan segan tetapi nanti perlahan mereka akan menghormati prinsip suami saya. Dan saya juga bersyukur yang biasanya dia merokok sehari semalam bisa 12 batang, sekarang sehari semalam 1-2 kadang malahan berhari-hari tidak merokok sama sekali.

Yang dirasakan setelah mencoba berhenti merokok? Karena ini masih berlangsung 1 bulan jadi perubahannya belum terlalu banyak, kata suami sih dia jadi jarang batuk-batuk. Oya di awal tadi saya bercerita pada di dua minggu pertamanya dia berusaha berhenti merokok suami saya jadi lebih sering ngemil dan sering makan besar, tetapi semakin kesini intensitas ngemil dan makan besarnya kembali normal dan setelah 1 bulan ini berat badan suami saya sedikit berkurang, saya tidak tahu korelasinya kalau dilihat secara medis, tapi saya malahan bersyukur karena suami saya tergolong over weight. Sekecil apapun efek yang terlihat, saya sudah bersyukur sekali karena dia punya kemauan untuk ke arah lebih baik saja itu sudah langkah besar menurut saya. Kita tidak pernah tahu kita akan hidup sampai diumur berapa, jadi sebisa mungkin kita harus menjaga kesehatan kita. Sederhana sih, saya hanya tidak ingin suatu hari nanti kondisi kesehatan saya menjadi beban untuk orang lain.

Semoga suami saya tetap semangat berusaha dan saya juga tetap semangat dalam memotivasinya. Kan memang seharusnya seperti itulah suami dan istri, saling memberikan motivasi untuk melakukan banyak hal positif.

Bismillah dan Alhamdulillah

Ratih Puspa Dewi


Dia tempatku belajar..

Dia kadang berteriak, mungkin karena dia kelebihan energi

Dia kadang kasar, mungkin karena motorik nya belum terlatih

Dia kadang pelit, mungkin dia belum sepenuhnya belajar berbagi..

Dibalik semua itu dia sebenarnya baik, dia kadang perhatian dengan sekitarnya. Dia memijit kaki bundanya ketika melihat bundanya lelah. Dia menyuapi adiknya roti ketika dia makan roti. Dia mengingatkan ayahnya untuk tidak merokok ketika ayahnya mulai keluar rumah dan merokok di luar pagar rumah. Dia juga membagi susu kotaknya kepada adiknya ketika bunda sengaja hanya membelikan 1 kemasan susu. Dia membersihkan wajah adiknya dari tepung ketika adiknya asik bermain tepung milik bunda. Dia membantu mencuci piring bekas makannya dia (tanpa diminta)..

Bersabarlah bunda, dia sedang berproses, dan bunda tau berproses itu tidak instan, berproses itu butuh waktu. Kita sebagai orangtua harus sering mengarahkan, tanpa kenal lelah. Jangan mengeluh, jangan melabeli, karena itu akan tertanam dibawah alam sadar bunda dan alam sadar balita mu.

Ingat balita mu sedang belajar, belajar menjadi baik, seperti dirimu yang setiap hari juga belajar menjadi orangtua yang baik. Seperti dirinya, dirimu pun ketika berproses kadang melakukan kesalahan, jadi jangan meluapkan marah padanya, nasihati dengan santun, ketika dia “berlebihan” tegurlah dengan tegas bukan dengan kasar dan bukan pula dengan bentakan atau teriakan

Tersenyumlah dan berbahagialah, karena kebahagianmu adalah surga mereka. Sejauh apapun anak-anak pergi dan bermain, keluarga adalah tempat mereka kembali pulang.

Warm Regards

(Bunda yang harus terus belajar)


mood swing atau”drama queen” ?

Anak sulung saya usianya 4 tahun 3 bulan pada november ini. Satu minggu belakangan ini suasana hatinya mellow sekali, ditegur sedikit nangis, di marahin sebentar juga nangis. Di sela tangisnya itu ada kalimat baru yang sering dia ucapkan, dia sering bilang:

“dulu waktu keia kecil keia nggak pernah dimarahin ayah bunda”

“kan bunda yang ngelahirin keia, suka beliin keia kue dan baju, kok bunda marah-marah sama keia, katanya sayang”

“dulu waktu ada ayah bunda dan keia, bunda nggak pernah marah-marah”

Di kesehariannya kadang dia memang agak drama, mood swing nya naik turun cepat sekali, baru marah sebentar tetapi beberapa menit kemudian (kalau sudah teralihkan) dia bisa tertawa terbahak-bahak dan tak jarang joget-joget karena ada hal yang lucu, dan bisa juga sebaliknya. Nah, yang terjadi akhir-akhir ini apakah karena kebiasaan dramanya dia atau memang suasana hatinya sedang sendu. Pertama kali saya dengar dia berkata demikian saya kok rasanya pengen ikut mewek dan langsung memeluknya tetapi ternyata pelukan saya di tolak (saya jadi semakin sedih), saya jadi sedih anak kecil seperti keia kok bisa punya pemikiran demikian dan merasa seperti itu, apakah dia merasa tersisih dari adiknya yang berusia 19 bulan.

Keia memang sering bertengkar dengan adiknya, adiknya baru anteng mainan tanpa sebab tiba-tiba dia memukul adiknya, adiknya pinjam mainan langsung dipukul olehnya, dalam sehari sudah tidak bisa dihitung dengan jari, dan sudah tidak terhitung juga seberapa sering saya teriak-teriak ketika melerainya. Apakah anak usia segitu dengan adiknya selalu cemburu seperti keia dengan adiknya ? ? Pertanyaan itu berulangkali saya tanyakan tapi kesimpulan yang saya dapat ketimbang anak-anak lain sepertinya hanya sulung saya yang bersikap demikian

Saya dan suami biasanya marah apabila si kakak sudah mulai bersikap kasar pada barang atau orang di sekitarnya seperti kepada saya,ayahnya dan adiknya, biasanya kalau sudah begitu kita langsung menegur dengan lisan tetapi kalau kasarnya sudah melebihi batas biasanya saya menerapkan hukuman mengurungnya di dalam kamar selama beberapa menit hingga dia mau minta maaf, hal tsb saya lakukan supaya mengurangi keinginan dia untuk lebih banyak menyakiti/bersikap kasar kepada saya/ayahnya/adiknya. Terlepas dari itu saya bersikap wajar kepada kedua anak saya, saya juga menghindari bersikap membanding-bandingkan anak-anak saya, karena saya tidak ingin melukai hati kedua anak-anak saya. Terlebih anak sulung saya ini punya perasaan yang sensitif, jadi saya berusaha sebaik mungkin untuk tidak melakukan hal tsb, karena pasti akan melukai hatinya.

Menjadi orang tua itu belajarnya seumur hidup, ujiannya setiap hari. Terlebih orangtua muda seperti saya dan suami, kalau kata orangtua ini belum seberapa karena anak-anak masih kecil, ujiannya masih seputar kenakalan-kenakalan kecil, perjalanan masih panjang, semoga stok sabar kami masih banyak dan semoga kami bisa meng-upgrade nya setiap hari. Introspeksi, introspeksi, introspeksi, dan perbaiki !!! itu yang harus saya lakukan. Karena saya sadar sepenuhnya bahwa pola asuh yang saya terapkan sekarang akan saya wariskan ke anak-anak saya nantinya, karena yang mereka terima sekarang akan tertanam di bawah alam sadarnya, maka saya tidak ingin menerapkan pola asuh yang sebenarnya salah.

Warm Regards

Ratih Puspa Dewi


Rasanya seperti….

Soulmate..,soulmate itu apa sih?soulmate itu siapa sih? Kalau menurut saya soulmate itu seseorang yang menjadi bagian dari kita dan kita akan merasa ada yang kosong kalau dia tidak ada (tidak ada sementara waktu atau secara permanen). Apa yang dirasakan soulmate kita, kita pun ikut merasakan. Dan menurut saya soulmate itu tidak selalu orang yang berhubungan dengan jodoh kita, bisa saja orang tua, saudara, sahabat, orang yang menjaga anak adalah soulmate kita.

Entahlah, saya pagi ini merasa ada yang kosong dan ada sebagian yang rasanya janggal. Kakak sepupu saya yang selalu menjadi patner saya menjaga kedua anak saya pagi ini tidak menyapa saya, tidak mengajak saya ngobrol, hanya berkata sepatah dua patah kata itupun kepada anak sulung saya. Memang semenjak kemarin story WA nya berisi keluh kesah dia, saya juga tidak paham apa dan siapa yang menyebabkannya, karena dalam hidup kakak saya banyak sekali orang-orang yang lalu lalang dan mengisi hidupnya baik yang membuatnya bahagia atau yang membuatnya menangis, dia memang orang yang supel dan perhatian pada sesama bahkan tidak ragu turun tangan menolong orang yang baru saja dikenalnya. Barangkali ternyata saya dan keluarga saya yang membuatnya bersedih, bisa jadi kan.

Saya hanya tidak memberanikan diri untuk bertanya, terlalu takut kalau jawabannya memang saya. Saya tahu betul posisi saya ini adalah posisi orang yang membutuhkan bantuan. Jadi sebisanya saya berusaha menjaga perasaan beliau dan keluarganya supaya tidak sedih/sakit hati terhadap perkataan/perbuatan yang saya/suami sengaja/tidak sengaja lakukan. Tapi saya bukan orang yang sempurna, bisa jadi ada hal yang luput saya jaga.

Saya tau saya membutuhkannya, membutuhkan kasih sayangnya untuk anak-anak saya, sama seperti saya membutuhkan kasih sayang suami saya untuk saya, karena bagi anak-anak saya mereka juga orangtuanya. Saya hanya tidak ingin mereka bersedih baik yang disebabkan oleh saya,suami dan anak-anak saya atau yang disebabkan oleh orang lain, karena saya pun turut ikut bersedih karenanya. Rasanya seperti orang yang patah hati kalau tau dia bersedih.

Semoga Allah SWT selalu melimpahkan kebahagian dan berkah untuk hidupnya, dan semoga mendapatkan surga atas keiklasannya.

 

Warm Regards

Ratih