Bekerja sambil melihat-lihat

Bekerja sambil lihat-lihat, lebih tepatnya begitu. Di sela-sela kerepotan mengurus pindah kantor ke lokasi yang baru saya menemukan pemandangan yang cukup menghibur mata. Setelah beberapa kali saya mondar mandir dari kantor lama ke lokasi kantor baru dalam dua bulan belakangan ini, baru kali ini saya melihat ada orang latihan dayung di kanal seberang kantor saya. Lokasi kantor saya memang dekat banjir kanal semarang, lebih tepatnya berseberangan dengan banjir kanal semarang. Berikut gambarnya:

View diatas kebetulan saya ambil dari balkon lantai 2. Ketika melihat ada orang mendayung kayak saya langsung ambil fotonya, dan ketika ada waktu di sela-sela temu janji dengan vendor saya langsung menuju ke arah kanal untuk melihat lebih dekat, penasaran dan ingin lihat. Sampai di pinggir kanal ternyata saya tidak sendirian, disana ada 2 orang lelaki yang sedang membawa sejenis alat komunikasi yang saya sebut sebagai walkie talkie, dia adalah Mas Joko dan Bapak-bapak (yang-saya-lupa-namanya hehehe) yang memakai kain lurik serta dalaman kaos berwarna merah . Sempat tadi bertanya sedikit kepada beliau ini, ternyata yang sedang mendayung ini adalah atlet POPDA Jateng yang akan bertanding di bulan maret 2019. Mereka ini dari beberapa SMA yang dilatih khusus oleh Mas Joko dan yang nantinya masih akan di seleksi lagi oleh Mas Joko dan Bapak yang-saya-lupa-namanya ini untuk mewakili kota semarang di ajang bergengsi tsb. Atlet itu saya taksir usianya sekitar 17-18 tahun karena tadi Mas Joko menyebutkan tahun kelahiran mereka sekitar tahun 2001-2002.

Mereka (yang meskipun terlihat sangat kecil gambarnya) sedang berlatih mendayung. Latihan rutin setiap sore setiap harinya. Dilatih oleh Mas Joko yang adalah seorang mantan atlet dayung berusia 27 tahun dan sekarang dipercaya untuk melatih atlet muda ini. Mas Joko ditemani oleh Bapak yang-saya-lupa-namanya, bapak ini ternyata pengurus dari provinsi.

Ah keahlian saya untuk mengorek informasi macam wartawan memang masih cemen alias tidak punya keahlian, bahkan saat mendengarkan ulang rekaman suara saya saja saya sedikit malu. Ilmu yang saya dapatkan ketika kuliah Sosiologi dan Antropologi menguap begitu saja, sehingga tidak banyak informasi yang saya dapatkan, bahkan saya sedikit malu ketika tadi si Bapak yang-saya-lupa-namanya ini berkelakar kalau jangan-jangan saya ini wartawan. Sungguh saya malu.

Semoga atlet yang mewakili kota ini semakin semangat berlatih dan bisa menjadi yang terbaik untuk lomba dayung ini.

Iklan

Man flu?Pernah dengar?

Hai, selamat datang musim hujan, musim hujan kesukaanku, semoga kita senantiasa bisa tetap menjaga kesehatan dan selalu dalam lindungan Allah SWT.

Sudah hampir 10 tahun saya mengenal suami saya, tentu saja ini terhitung dari saya mulai berkenalan dengannya, pacaran, menikah hingga sekarang. Sudah hampir 10 tahun pula saya mengamati suami saya sat terkena flu, rasa-rasanya saya melihat dia seperti menderita dan tersiksa sekali, padahal saya sendiri atau anak-anak kalau terkena flu juga nampaknya tidak separah seperti suami saya. Saya pikir mungkin memang karena dia sering beraktivitas di luar ruangan,terkena panas/angin bahkan hujan dan tak jarang juga kecapekan sehingga kekebalan tubuh dia juga tidak sebaik tubuh saya.

Kemudian sampailah pada saat saya membaca sebuah novel online di wattpad novel tsb menyinggung sedikit menganai “Man flu”. Saya juga baru tahu jika ada istilah “Man flu”, apa itu man flu? Saya penasaran, kemudian seperti kebanyakan manusia yang hidup di jaman serba internet, saya akhirnya mencari tahu dari google mengenai istilah tsb, saya buka wilkipedia terjemahan kemudian saya baca di daftar pustakanya (1) . Salah satu jurnal kesehatan yang saya baca dari The Telegraph cukup menarik buat saya, meskipun saya harus membacanya secara berulang, karena menurut saya pribadi terjemahan versi google kalimatnya tidak baku (harusnya saya lebih banyak belajar bahasa inggris supaya bisa terjemahin sendiri, hehehe), tapi bagaimanapun juga saya berterimakasih sama google (jempol deh buat google).


Flu manusia bukanlah mitos, klaim para ilmuwan, yang menemukan pria lebih menderita karena mereka berinvestasi dalam semangat petualangan mereka dengan mengorbankan sistem kekebalan tubuh mereka.

(2)

Kemudian Richard Alleyne di jurnalnya menuliskan bahwa :


Para peneliti mengatakan produksi hormon seks estrogen pada wanita bisa memiliki efek menguntungkan pada respon bawaan mereka terhadap penyakit yang menyebabkan serangga.
Mereka menemukan itu meningkatkan kekebalan wanita yang mewakili garis pertahanan pertama tubuh terhadap virus seperti flu.

(3)

Jadi kesimpulan yang saya dapat dari kutipan di atas adalah perbedaan jenis kelamin mempengaruhi tingkat kekebalan seseorang, wanita mempunyai tingkat kekebalan yang lebih bagus dari pria karena hormon ekstrogen yang diproduksi wanita melindungi bagian tubuh yang mudah terpapar oleh infeksi (cmiiw).

I see… jadi ini penyebabnya, ketika suami saya flu dia jadi terlihat sangat teler & lemah seperti sedang sakit parah dan nampak seperti membutuhkan perawatan ekstra. Kalau saya ingat-ingat, ketika dia flu memang efek yang terlihat sangat lebay, kemudian flu nya juga berlangsungnya lama hingga dua minggu lebih. Kalau sudah tau begini kan ke depannya ketika memasuki musim yang ekstrim dan rentan terjangkit flu, saya bisa mengambil antisipasi tambahan. Ketika saya dan anak-anak flu biasanya saya cukup minta mereka untuk makan yang cukup, banyak istirahat dan tidur tepat waktu, sedangkan khusus untuk suami saya sepertinya harus ada tambahn vitamin.

Mari jaga kesehatan kita di musim hujan ini, hadapi musim hujan dengan gembiran dan banyak doa.

With Love

Ratih Puspa Dewi

Daftar Pustaka

  1. https://en.wikipedia.org/wiki/Man_flu . Diakses 10 Januari 2019
  2. Alleyne, Richard (2010-03-24). “Flu manusia bukanlah mitos karena para ilmuwan membuktikan bahwa pria lebih banyak menderita penyakit” . The Daily Telegraph . London . Diakses 10 Januari 2019 .
  3. Alleyne, Richard (2009-05-12). “Pria menyerah pada manflu karena wanita memiliki sistem kekebalan yang lebih kuat, klaim para ilmuwan” . The Daily Telegraph . London . Diakses pada 10 Januari 2019 .

Selamat tahun 2019 dan selamat baking…

Selamat tahun 2019, semoga di tahun ini banyak kebaikan menyertai dan selalu dalam lindungan Allah SWT, amin. Masuk tahun 2019 kerjaan sedikit menumpuk karena banyak rekapan yang dibuat di kantor dan juga harus mempersiapkan banyak hal untuk pindahan kantor ke gedung yang baru, inhale…exhale..,berharap semoga semuanya lancar hingga pindahan selesai, amin.

Malam tahun baru bagi saya tidak ada bedanya dengan malam malam lainnya, yang membedakan adalah langkah-langkah yang akan kita lakukan setelah malam tahun baru berlalu.

Saya tidak terlalu menyukai jalan-jalan dan tempat yang padat manusia, sudah sekitar lebih dari 5 tahun ini setiap malam tahun baru saya lalui di rumah bersama suami. Untuk malam tahun baru ini saya memilih membuat brownies panggang di rumah yang adalah cemilan favorit kita sekeluarga. Untuk paginya saya lanjutkan membuat roti manis lagi, saya masih pengen belajar membuat roti manis yang sesuai harapan saya, maklum lah ya namanya belajar masih saja ada yang kurang ini dan itu. Kemarin ini lumayan pegel juga ya buat 2 jenis cemilan (amatir soalnya ya), tapi saya seneng karena saya mau kedatangan tamu dari kebumen yaitu sahabat dari ayah saya yang sudah 1 tahun ini tidak bertemu dan yang sudah kami anggap seperti saudara sendiri.

Untuk roti manisnya kali ini penampakan hasilnya lumayan bagus, bentuknya sudah lebih indah dilihat daripada buatan sebelumnya (hehehe..), untuk isiannya kemarin saya buat 3 jenis : keju manis (pakai keju kraft yang quckmelt dan gula pasir tetapi untuk toping atasnya saya pakai kejunya yang keju kraft chedar ya), coklat keju dan coklat (coklatnya supaya gampang meleleh harus dicincang halus ya), tetapi untuk teksturnya sih lebih bagus buatan yang sebelum ini (di postingan sebelumnya) hal ini dikarenakan : takaran raginya saya sadar sekali kalo kurang tepat karena timbangannya juga tidak sensitif untuk takaran dibawah 10gr, kemudian adonannya kurang lama mixernya karena mixernya sudah mulai berasap dan bau menyengat alhasil rotinya sedikit kurang mengembang dan sedikit kurang lembut. Dan untuk resep roti manisnya saya masih pakai resep yang sama (ada di postingan sebelumnya). Untuk browniesnya saya juga ambil dari bakergram di instagram, dan untuk pemakaian loyang 20×20 saya pakai takaran 2 resep, berikut resepnya ;

♥Shiny Chewy Brownies
resep by @erlina.lim_
made by me

bahan bahan:
150gr DCC
50gr mentega/butter
40ml minyak goreng
2butir telur
150gr gula halus
100gr tepung terigu
35gr coklat bubuk
toping sesuai selera (saya almond&chocochip)

cara buat:
1.lelehkan DCC,mentega dengan di tim (kalau saya : minyaknya saya campur sekalian)
2.kocok telur dan gula halus menggunakan whisk hingga gula larut,kemudian masukan lelehan coklat+mentega+minyak,aduk rata
3.masukan tepung terigu+coklat bubuk ke campuran tadi dan aduk rata
4.tuang adonan ke dalam cetakan 30×10 yang sudah dialasi kertas roti
5.beri toping sesuai selera
6.panggang dalam oven dengan panas 150°C di rak bawah 20menit, rak tengah 10menit (saya pakai oven tangkring dengan api sedang, saya panggangnya kurleb 60 menit)

Tetap semangat mencoba dan terus belajar, semoga kita bisa jadi ibu-ibu yang produktif.

With Love

Ratih Puspa Dewi

Percobaan membuat sweet bread ..

Weekend itu belajar!!!!! Itu quote pendamping saya yang lagi semangat belajar masak. Kenapa weekend, ya karena di weekend ini lah saya memiliki waktu yang sedikit luang untuk melakukan hal hal produktif (ciye…gaya banget bahasanya). Ya mau gimana lagi, karena memang bisanya efektif belajar otodidak ini ya di akhir pekan, meskipun seringnya sih saya kalau baking masih sambil jejeritan ngawasin anak-anak main, habisnya kakak sama adek ini selalu saja punya alasan untuk bertengakar, kalau tidak bertengkar kadang melakukan hal-hal aneh yang di luar dugaan saya yang bikin saya banyak-banyak istighfar.

Tanggal 23 Desember kemarin, akhirnya saya belajar lagi membuat roti manis untuk yang kedua kalinya setelah yang sebelumnya sempet gagal dan hasilnya keras. Happy banget kali ini lumayan berhasil dan suami suka karena rotinya ndak keras. Seperti biasa saya dapat resepnya dari instagram, saya lihat di IG nya cici liliana wijaya, cici nya baik hati lho karena setelah saya baking saya DM beliau tanya mengenai beberapa hal juga responnya baik dan cici lili ini sempet komentarin postingan saya di IG. Saya copas saja resepnya beliau disini, supaya nanti kalau mau bikin kue bisa cusss langsung intip lagi resepnya.


SWEET BREAD ( with whipping cream )
( versi 2 kuning telur )
Source : @liliana.wijaya68

Bahannya :
300 gr tepung komachi ( bread flour / high protein flour / tepung protein tinggi lainnya misal : cakra )
60 gr gula pasir
10 gr susu bubuk
5 gr fermipan / instant yeast
2 kuning telur + 40 gr whipping cream cair ( misal : Anchor ), tambahkan susu cair, timbang sampai mencapai = 220 gr
( susu cairnya suhu dingin kulkas )
30 gr butter
2 gr garam

Caranya :
Campur di mixer bowl tepung komachi, susu bubuk, fermipan, gula pasir, mixer dg kecepatan pelan sambil tuang cairan susunya
Setelah setengah kalis masukkan butter & garam
Mixer terus sampai kalis elastis ( window pane stage )

Bulatkan, istirahatkan selama kurang lebih 45 mnt sampai mengembang 2x nya

Kempiskan adonan, ulen dg lembut sebentar
Bagi2 sesuai selera, bulatkan, istirahatkan lg 10 mnt
Gilas spy udara yg terperangkap bisa keluar, isi dg isian sesuai selera, bentuk, letakkan di loyang yg sudah dioles mentega
Istirahatkan lagi 1 sampai 1,5 jam atau tergantung suhu ruangan
Oles dg susu cair waktu akan dioven

Panaskan oven 10 mnt sebelumnya, oven dg api atas bawah suhu kurang lbh 170 – 180 C sampai matang
Begitu matang keluar oven oles dg butter supaya mengkilat & lembut
Kalau sudah agak dingin segera bungkus roti dg plastik


Untuk hasil baking saya kemarin ada di gambar di bawah ini, belum terlalu bagus sih tapi menurut saya pribadi lumayan lah (hahaha…menghibur diri).

  • Kalau menurut saya belajar bikin roti manis itu yang susah ngadonnya, untuk mendapatkan adonan yang kalis elastis (window pane) seperti gambar pertama saya sendiri membutuhkan waktu sekitar 30 menit memakai hand mixer merk miyako. Hitung-hitung sekalian olahraga ya, karena berasa banget pegelnya waktu ngemixer adonan, apalagi saya masih amatir masih harus banyak belajar teknik mixer adonan. Kemarin juga agak kawatir sama mixer nya karena takut mixer nya panas dan kobong (kebakar), waktu nge-mixer juga sering on off in mixer supaya ada jeda mixernya biar adem sebentar, dan kemarin pun menurut saya hasil adonannya masih belum begitu window pane karena belum maximal ngadon saya sudah terpaksa harus berhenti mixernya karena sudah ada bau tidak enak dari mixer nya. Lihat gambar pertama, adonannya hanya bisa di jembreng selebar itu saja, misalkan di tarik lagi bakalan sobek adonannya, itulah yang saya bilang belum begitu window pane (masih harus banyak belajar lagi). Dan enaknya bikin roti manis itu banyak jeda waktu saat nunggu proofing, jadi bisa saya gunakan buat nyambi banyak hal, bisa saya manfaatin waktunya buat main sama anak dulu, mandiin kakak sama adik, atau bisa saya gunakan buat beberes rumah dulu, cuma ya itu jadi ndak sabar nunggu matengnya, kepingin segera nyicip.
  • Untuk soal resep, kemarin saya buatnya ada sedikit perbedaan di whipping cream nya, di resep nya ci lili pakainya whipping cream cair, tetapi kemarin saya cari whipping cream cair di daerah saya agak susah dan adanya whipping cream bubuk merk pondan, maklum mungkin karena sudah masuk perbatasan kota jadi tidak begitu lengkap tokonya. Kemarin saya juga sempet bingung gimana takarannya, akhirnya saya coba-coba saja lah semoga beruntung, kemarin saya tetap takar whipping cream bubuknya 40gr+susu cair dingin+2 kuning telur total timbangannya 220 gr. Padahal aturannya di kemasan untuk whipping cream bubuk dicampur dulu dengan air dingin kemudian di kocok, tetapi kemarin saya tidak pakai aturan itu, langsung saya campur dengan kuning telur dan susu dingin. Dan menurut saya hasil akhir rotinya tidak ada masalah sih.Semoga ketidak tahuan saya ini menjadi pembelajaran buat saya pribadi.
  • Bahan filling nya saya pakai selai stroberry dan DCC batangan. Untuk ngebentuk adonannya setelah dikasih filling apa memang susah ya, atau karena saya masih amatir ya??? Pertama, untuk filling DCC kemarin memang saya agak kebesaran motong-motong coklatnya jadi semakin susah ndapetin bentuk roti yang bulat sempurna (lihat foto kedua yang ada wijennya). Kedua, pakai filling strobery ini lebih kesulitan lagi saat ngebentuk rotinya, karena si selai maunya keluar dari adonan terus, dan karena teksturnya selai yang cair ini bikin adonannya jadi licin jadi mau ditutup ndak bisa, adonannya jadi ngebuka terus,akhirnya selainya bocor dan mbleber-mbleber (lihat foto kedua yang tanpa wijen).
  • Dan yang terakhir seperti biasa saya memanggangnya pakai oven tangkring alias otang, kemarin saya panaskan ovennya kira-kira 15 menit dengan api sedang dan untuk lama memanggang 30 menit memakai api sedang. Untuk memanggang dengan oven memang harus pakai ilmu kira-kira, jadi memang harus sering-sering praktik supaya hafal ya sama perkiraan pengaturan suhu dan lamanya memanggang.

Ayo semangat terus belajar, doing by learning ya bunda (menyemangati diri sendiri). Demi anak-anak dan suami yang seneng ngemil.

Salam Otang

Ratih Puspa Dewi

Anak balita diajak nonton bioskop, yay or nay?

Kamis kemarin akhirnya saya nonton bioskop setelah saya berhasil membujuk suami saya, hehehe (seneng nya udah kayak dapat apa aja). Ya bagi ibu-ibu seperti saya kalau suami memberikan waktu me time, itu hal yang menyenangkan. Dan ya, saya nonton sendirian lho, bukan dengan suami, sebenarnya sih kemarin sudah berencana nonton bareng sahabat tetapi karena sahabat pulang dari kantor jam 18.30 dan lokasi bioskop pilihan saya baginya terlalu jauh akhirnya ya habis itu pembicaraan mengenai rencana nonton bareng tidak ada lanjutannya. Menurut saya kok biasa saja ya nonton atau jalan-jalan sendirian, bukan hal yang aneh, ya meskipun beberapa teman kantor terheran-heran saat tahu saya nonton sendirian dan anak-anak di jaga oleh suami. Why not? pertama suami memang tidak suka nonton film, kedua anak-anak tidak ada yang menjaga misalkan kita tinggal nonton bioskop berdua dan ketiga suami sendiri yang mengijinkan dan bersedia menjagan anak-anak sebentar (love you bojo…).

Kemarin saat nonton film aquaman, banyak pengunjung yang mengajak serta anak-anak mereka, ada yang usianya kisaran balita dan ada yang kisaran usia 6 atau 7 tahun. Tidak heran kalau banyak anak-anak malam-malam di weekdays begini datang ke bioskop, karena memang ini kan sudah memasuki liburan sekolah, bahkan saya sendiri sedikit merasa iri karena kepengen juga kapan-kapan mengajak anak-anak nonton. Hanya saja kalau saya pribadi akan sedikit selektif mengenai film apa saja dan di usia berapa anak-anak saya perbolehkan nonton. Selama anak-anak usianya masih di bawah lima tahun sih saya tidak akan mengajak anak-anak nonton bioskop, karena menurut saya sound di dalam bioskop itu masih terlalu bising untuk anak-anak usia balita, dan alasan lainnya karena anak balita itu mudah bosan ketika berdiam diri di satu tempat. Kemarin saya juga melihat sendiri ketika nonton aquaman banyak orangtua yang mengajak serta anak balita mereka padahal aquaman disarankan untuk anak-anak di atas usia 13th, baru nonton sebentar sudah ada balita yang pindah tempat ke tangga yang biasanya dipakai lalu lalang orang dan kemudian orangtua nya berusaha menenangkan supaya anak tsb tetap anteng duduk, ada lagi tepat di sebelah saya ada balita yang sudah klisikan tidak nyaman karena mungkin dia ngantuk dan capek duduk. Saya tidak tau pasti alasan-alasan orangtua tsb mengajak nonton anak-anak mereka, terlebih lagi itu bukan film untuk usianya. Kalau saya pribadi akan menyarankan kepada diri saya, apabila memang mau nonton ya pastikan anak-anak balita ditinggal dirumah dan ada yang bersedia menjaga, apabila tidak ada yang menjaga ya kalau saya pribadi lebih baik mengalah tidak usah nonton daripada nonton bioskop membawa anak balita terlebih itu bukan film anak-anak. Lagipula apa nyaman sih kita nonton film sedangkan anak balita kita terlihat tidak nyaman di dalam bioskop? akhirnya saya malah jadi kasian sama si balita dan saya sendiri juga jadi tidak nyaman nonton.

With Love

Ratih

Catatan harian suami yang ingin berhenti merokok

Meniadakan hal yang biasanya menjadi rutinitas memang berat, apalagi jika itu sudah berlangsung selama hampir berpuluh tahun. Semua itu tetap butuh penyesuaian, penyesuaian rasa, penyesuaian waktu, penyesuaian sikap, penyesuaian sistem kerja tubuh. Di sini saya ingin menuliskan proses suami saya ketika mencoba berhenti merokok, kenapa saya bilang mencoba berhenti? ini karena saya tidak ingin muluk-muluk dulu dan karena sampai saat saya menuliskan ini, suami saya masih dalam tahap mencoba, belum sepenuhnya berhenti, harapannya sih dia mau berhenti total suatu saat nanti. Yang ingin saya bagikan disini tidak hanya dari sudut pandang saya saja tetapi juga dari sudut pandang suami saya. Saya menulis ini juga agar saya lebih banyak memberi semangat kepada suami saya.

Kapan? Kapan tepatnya dia termotivasi ingin mencoba berhenti? Saya masih ingat waktu itu menjelang akhir bulan november. Tanggal 24 November 2018 ketika suami saya pulang kerja dia mengeluh sakit kepala (kepalanya berat dan pandangan beputar-putar). Memang satu minggu terakhir itu anak-anak juga terserang batuk pilek, saya sendiri sudah batuk pilek tetapi tidak parah, dan hal ini tidak luput dari suami saya, tak terkecuali dia, dia juga ikut terserang batuk pilek bahkan bisa dikatakan serumah itu dia yang paling parah sakitnya, hal ini juga disebabkan karena di bulan november ini dia memforsir tenaga dan pikirannya untuk bekerja ekstra keras menghadapi gathering kantornya (dia termotivasi untuk tutup target, setelah perjuangan yang berdarah-darah akhirnya tutup target dong ya, yeyeye lalalala..) dan dia juga membantu mengelola peremajaan saluran air di tiap rumah dalam 1 RT di komplek tempat tinggal kami. Tanggal 25 November malam dia semakin merasa tidak enak badan, badanya lemah, dia mengigil kedinginan, dia terus-terusan batuk, dan dadanya sakit ketika dia batuk. Tanggal 26 November saya memaksanya untuk beristirahat di rumah dan memintanya ijin tidak bekerja, saya bilang memaksa karena aahhhh… dia itu susah sekali dibujuk untuk istirahat, jatah cuti yang menjadi hak dia saja dia tidak ambil, apalagi sampai mangkir tidak bekerja yang menyebabkan  terpaksa dia mendadak harus membatalkan semua rencana pekerjaannya. Di momen dia sakit inilah, saya mengeluarkan jurus-jurus saya agar dia mau berkaca dan berpikir kembali supaya dia mempertimbangkan untuk berhenti merokok.

Apa motivasinya? kalimat atau tindakan apa sih yang bikin kamu makjleb dan berpikir “ini udah saatnya saya harus mencoba” ? Kalau dari penuturan suami sih dia bilang tidak ada motivasi atau tidak ada hal-hal yang bikin dia makjleb, dia berhenti hanya karena sering diomelin saya setiap merokok. Sederhana banget ya alasannya dan jawaban dia makjleb buat saya,hahaha. Tapi saya bersyukur karena omelan saya setiap hari yang berlangsung selama bertahun-tahun akhirnya ada hasilnya juga, karena saya juga sebenarnya capek setiap hari harus ceriwis menasehati suami saya supaya tidak dekat dekat anak/rumah kalau merokok, habis merokok harus cuci tangan cuci muka dan ganti baju dll.

Apa harapannya setelah berhenti merokok? Untuk harapannya dia menyampaikan karena ingin hidup lebih sehat. Kalau saya pribadi sih ingin dia berhenti merokok karena selain menginginkan dia hidup lebih sehat saya juga ingin bisa menua bersamanya, meski sudah tua nanti saya masih ingin nunak nunuk bersamanya, kemana-mana bersama, bisa jalan-jalan ke banyak tempat, melakukan banyak hal bersama, bisa bermain dan mengasuh cucu di masa tua saya. Jadi saya ingin dia sehat tidak untuk hari ini saja tapi untuk masa depan.

Langkah-langkah yang dilakukan untuk berhenti merokok? Tanggapan orang sekitar ?Selama kurang lebih 1 minggu pertama suami saya langsung stop merokok, yang dirasakan susah sekali dan dia sering merasa gelisah, frekuensinya ngemil dan makan besar juga lebih sering dari biasanya, karena ketika dia tidak merokok dia jadi sering merasa lapar, di tengah malam pun dia sering terbangun dari tidur karena perut merasa lapar. Di minggu berikutnya polanya dirubah, dia merokok tetapi hanya 1 kali atau 2 kali dalam satu hari atau kadang tidak sama sekali, jadi tidak seperti minggu pertama yang langsung stop benar-benar tidak merokok. Dia ingin perlahan mengurangi bukan langsung stop, karena menurutnya tubuhnya butuh penyesuaian diri begitu juga lingkungannya. Dia merokok 1 hari 1 atau 2 batang pun karena untuk menjaga hubungan pertemanan karena di tempat kerja dan di lingkungan rumah hampir semuanya merokok dan baginya berhenti merokok itu mengurangi hubungan pertemanannya, ketika dia tidak merokok teman-teman jadi merasa segan untuk mengajaknya berkumpul dan mengobrol. Ya memang ada betulnya kalau teman-teman menjadi segan, ada tetangga dekat yang sering kongkow sambil ngopi dan merokok di teras rumah hingga tengah malam, sekarang jadi jarang main ke rumah karena alasannya kasian anak-anak saya yang masih kecil kena asap rokok. Kemudian rekan kerjanya yang biasanya order barang-barang sambil mengajaknya ngobrol, sekarang jadi tidak banyak ngobrol dengannya. Kalau saya sendiri menanggapinya positif, memang tetangga dan temannya di awal-awal pasti merasakan segan tetapi nanti perlahan mereka akan menghormati prinsip suami saya. Dan saya juga bersyukur yang biasanya dia merokok sehari semalam bisa 12 batang, sekarang sehari semalam 1-2 kadang malahan berhari-hari tidak merokok sama sekali.

Yang dirasakan setelah mencoba berhenti merokok? Karena ini masih berlangsung 1 bulan jadi perubahannya belum terlalu banyak, kata suami sih dia jadi jarang batuk-batuk. Oya di awal tadi saya bercerita pada di dua minggu pertamanya dia berusaha berhenti merokok suami saya jadi lebih sering ngemil dan sering makan besar, tetapi semakin kesini intensitas ngemil dan makan besarnya kembali normal dan setelah 1 bulan ini berat badan suami saya sedikit berkurang, saya tidak tahu korelasinya kalau dilihat secara medis, tapi saya malahan bersyukur karena suami saya tergolong over weight. Sekecil apapun efek yang terlihat, saya sudah bersyukur sekali karena dia punya kemauan untuk ke arah lebih baik saja itu sudah langkah besar menurut saya. Kita tidak pernah tahu kita akan hidup sampai diumur berapa, jadi sebisa mungkin kita harus menjaga kesehatan kita. Sederhana sih, saya hanya tidak ingin suatu hari nanti kondisi kesehatan saya menjadi beban untuk orang lain.

Semoga suami saya tetap semangat berusaha dan saya juga tetap semangat dalam memotivasinya. Kan memang seharusnya seperti itulah suami dan istri, saling memberikan motivasi untuk melakukan banyak hal positif.

Bismillah dan Alhamdulillah

Ratih Puspa Dewi


Ayo bikin roti manis

Sudah sejak lama ingin coba bikin roti-rotian, tetapi selalu maju mundur karena alasan yang sepele seperti lagi males, takut gagal lah atau lagi sok-sok nggak ada waktu padahal sebenernya karena niatnya aja yang kurang,hehehe. Pernah baca captionnya salah satu bakergram yang top di instagram (tapi lupa siapa), untuk pemula yang mau coba buat roti disarankan buat yang mudah-mudah dulu seperti roti manis.

Weekend lalu saya sudah membulatkan tekad mencoba membuat roti manis, dengan bahan isiannya pakai yang seadanya saja di rumah, karena masih ada sisa dark coklat (sisa buat brownis panggang) jadi saya pakai dark coklat batangan saja. Untuk isiannya, saya pikir sementara yang seadanya saja lah ya, yang terpenting belajar buat roti manis nya dulu, belajar bagaimana caranya supaya rotinya berhasil dan enak. Dan yang nggak kalah penting bulatin dulu tekadnya, urusan rotinya berhasil atau tidak pikir belakangan.

Dan….. ternyata eh ternyata membuat roti manis pertama kali tidak semulus pantat bayi, belajar otodidak dan minim pengalaman membuat saya memaklumi kegagalan saya, hehehe pembelaan diri ini sih namanya. Roti manis yang saya buat kemarin tekstur rotinya keras diluar, garing di dalam, hahaha… mari kita lihat penampakannya:

Untuk gambar roti di atas, ini saya panggangnya pakai loyang yang persegi (yang loyang untuk kue kering), hasilnya luarnya keras dan dalamnya garing rotinya, kalau ingat hasilnya jadi ingin tertawa, hahahaha. Beda dengan hasil di loyang persegi panjang yang agak tinggi (gambar bawah), karena hasil tekstur roti nya sedikit (sedikit saja lho ya) lebih lembut dan tidak terlalu garing, tetapi tetap saja hasil masak kali ini jauh dari kata sukses.

Nah, dari tampilan luarnya saja keliatan kan kalo rotinya keras,hehehe. Kenapa hasilnya bisa keras? mungkin karena ngadon nya kurang lihai, saya akui itu. Untuk pengalaman pertama yang amburadul ini saya jabarkan saja ya, supaya di kemudian hari kalau mau buat roti manis saya bisa inget lagi kesalahan-kesalahan yang pernah saya lakukan.

Pengalaman saya:

  • Waktu mixer adonan kue (pakai kaki mixer spiral), saya kewalahan sekali karena adonannya selalu ikut naik bahkan adonan sampai nyempil di dalam lubang untuk tempat kaki mixer. Berkali-kali saya matikan mixer, karena saya harus menurunkan adonan pakai spatula kemudia saya mixer kembali dan saya matikan lagi mixernya saya turunkan adonannya, begitu terus adonannya nggak pernah mau tinggal di mangkok plastik. Akhirnya saya berhenti mixer setelah saya rasa adonan sudah tercampur semua, jadi fatalnya disini saya berhenti mixer bukan karena adonan sudah kalis elastis tapi karena menurut saya yang penting semua bahan  sudah tercampur semua dan karena saya sudah tampak kewalahan dan takut mixer karena mixernya pun sudah panas. Berkat ilmu ngawur dan sotoy saya beginilah hasilnya. Yaahh sekali lagi karena malas cari tau mengenai trik mixer adonan kue, jadi ya begini ini hasilnya.
  • Setelah di mixer, adonan dibulatkan dan diistirahat kemudian di tutup pakai kain bersih atau plastik wrap. Di sini saya tidak membulatkan adonan tapi cuma saya rapiin dengan spatula kemudia ditutup pakai kain bersih (tuh kan males lagi).
  • Seharusnya adonan diistirahatkan kurang lebih 10-15 menit di wadah tertutup, sudah saya istirahatkan sesuai dengan yang tertulis di resep, tetapi ketika saya buka kok adonan tidak mengembang, akhirnya saya ganti tutupnya dari kain bersih saya tutup pakai plastik wrap kemudia atasnya baru kain bersih selama 15 menit, jadi totalnya 30 menit dan adonan hanya mengembang sedikit. Mungkin langkah ini juga menyumbang kegagalan saya ya hehehhe.
  • Untuk oven, karena saya pakai oven tangkring waktu mangganya biasanya tidak pernah sesuai dengan yang ada di resep, biasanya waktunya lebih lama dari yang tertulis di resep (ini ide sotoy saya). Hal ini saya lakukan karena saya tidak bisa mengira-ngira apakah panasnya pas, biasanya patokan saya sih dari tes tusuk atau warna permukaan roti. Karena kemarin perdana buat roti manis, saya pikir dilihat dari warna yang terlihat dari luar oven sudah pas kematangannya, ehhhh…ternyata setelah roti keluar hasilnya keras, terlalu lama manggangnya.

Percobaan berikutnya bekal ilmunya harus lebih banyak, harus sering scroll akunnya para bakergram yang top di instagram. Catat dulu resepnya dan jangan menyesal karena gagal sekali. Di rumah saya kalau ada eksperimen yang gagal alhamdulillah nya tidak begitu mubazir kok, karena tinggal di akal saja cara menikmatinya. Kalau hasilnya keras ya tinggal bikin teh atau kopi nanti rotinya di celup-celup dulu sebelum dimakan, kalau kemanisan ya tinggal makannya didampingi kopi, udah gitu aja simpel, hal-hal sederhana saja sudah bikin kita happy kok.


Resep Roti Manis  (saya pakai 1/2 resep)

Source : nanaratna251

Rebaked : me

500 gr tepung protein tinggi (saya pakai cakra)

11 gr ragi instan

1 butir telur dan susu cair ditimbang total 300gr

100 gr margarine

100 gr gula pasir

Taburan : gula pasir

Isian : dark coklat batangan dipotong-potong

Cara membuat:

  • Campurkan telur&susu cair, aduk rata. Masukan tepung terigu, ragi, gula pasir, mixer sampai kalis elastis.
  • Adonan dikembangkan 10-15 menit. Terus bagi adonan sesuai selera, gilas adonan supaya udara yang terperangkap keluar, bentuk sesuai selera. Diamkan selama 45 menit, biarkan fermentasi sampai mengembang 2x lipat dari ukuran semula. Oles susu cair dan tabur gula. Panggang susuh 180-200c sekitar 15 menit

Selamat mencoba

Ratih Puspa Dewi